PejuangKantoran.com - Ghost in the Cell merupakan film ke-12 dari penulis dan sutradara Joko Anwar. Film ini menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik, dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia.
Film yang menggelar world premiere-nya di Berlinale ini dibintangi oleh aktor lintas generasi sekaligus lintas negara. Antara lain Abimana Aryasatya, aktor Malaysia Bront Palarae, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, hingga Arswendy Bening Swara.
Jokan (sapaan akrab Joko Anwar) juga mengajak aktor pendatang baru Magistus Miftah dan Ho Yuhang, sutradara Malaysia untuk berakting di sini.
Baca Juga: Series Romcom 'A dan Z: InsyaAllah Cinta' Jadi Tayangan Vidio buat Teman Ngabuburit Para Cewek
“Aku sudah beberapa kali membuat film, tapi ini adalah film dengan ensemble cast terbesar. Semua memiliki peran penting. Kalau ada satu karakter dikeluarkan, cerita tidak akan jalan. Semua ada fungsinya!” seru Joko Anwar, saat konferensi pers Ghost in the Cell di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (23/02/2026).
Proses syuting dilakukan di Bandung dan menghabiskan waktu 22 hari. Yang menarik, jam kerja tiap harinya hanya setengah hari sehingga banyak pemain kagum dengan cara kerja Joko Anwar dan tim Come and See Pictures.
Joko mengatakan bahwa efisiensi kerja tercapai karena tidak hanya mempekerjakan pemain yang berbakat, tetapi juga kru menurutnya terbaik di bidangnya.
“Kenapa bisa secepat itu syutingnya, karena skenario kita 97 halaman. Sebenarnya, itu standar sebuah film layar lebar. Tapi, jumlah scene-nya sedikit, hanya 40 scene dan kebanyakan adalah scene-scene panjang.
"Bang Joko banyak menggunakan teknik one long shot. Jadi, satu scene bisa (menyelesaikan) 10 hingga 15 halaman!” ujar produser Tia Hasibuan.
Ical Tanjung, yang bertindak sebagai sinematografer, mengatakan bahwa persiapan sebelum mengeksekusi pengambilan gambar seperti itu melibatkan kolaborasi dari banyak pihak.
Semua departemen film sepakat, pada saat syuting para aktor harus diberi ruang agar leluasa dalam mengekspresikan karakternya.
Jauh sebelum syuting dimulai, tim produksi membahas detail tekstur penjara, dan bagaimana pencahayaannya. Selain itu juga banyak tes yang dilakukan, seperti tes color dan lainnya.
"Kita bangun setup semua ruang di seluruh penjara. Setup dibuat supaya pemain merasa ini playground mereka, ruang bermain tanpa ada hambatan teknis.
"Kita sepakat untuk memberi ruang karena ensemble pemain yang begitu banyak,” ujar Jaisal Tanjung, yang juga ikut berakting di film ini.
Artikel Terkait
Buat Karyawan Muda, Jadi Individual Contributor Lebih Prestise ketimbang Jadi Manajer
Bukan Kafe atau Co-Working Space, Ini Alternatif Tempat Kerja Favorit Para Digital Nomad Saat Traveling
Kemnaker Pastikan Pengemudi Ojol Bakal Kembali Terima Bonus Hari Raya di Lebaran 2026
Lowongan Digital Marketing Staff dari Sido Muncul Buat yang Punya Pengalaman 2 Tahun di Bidang Ini
Bloomingdale's Bajak Karyawan Saks Fifth Avenue dan Bergdorf Goodman dengan Paket Kompensasi
Taman Safari Indonesia Membuka Lowongan Posisi Brand Activasion dan Public Relations untuk Ditempatkan di Batang Jawa tengah
HiFi Air, Internet Rumah yang Bisa Dibawa-bawa. Cocok buat Mudik Lebaran Nanti!