Buat Karyawan Muda, Jadi Individual Contributor Lebih Prestise ketimbang Jadi Manajer

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:35 WIB
Ilustrasi: Buat karyawan muda, jadi mentor tanpa harus bertanggung jawab dengan perkembangan karier orang lain lebih memuaskan.  (Freepik/Tirachardz)
Ilustrasi: Buat karyawan muda, jadi mentor tanpa harus bertanggung jawab dengan perkembangan karier orang lain lebih memuaskan. (Freepik/Tirachardz)

PejuangKantoran.com - Mendidik calon manajer akhir-akhir ini semakin sulit. Gen Z disebut-sebut kurang berminat memimpin tim, dan lebih memilih work life balance. Akibatnya, perusahaan menghadapi perubahan struktural dan tantangan baru.

Bagi karyawan muda sekarang ini, menjadi orang yang benar-benar jago di bidangnya jauh lebih prestise ketimbang memimpin orang. Karena itu mereka memilih jadi individual contributor, yang tidak perlu bertanggung jawab dengan pekerjaan orang lain.

“Sepertinya kita tumbuh dengan banyak cerita tentang bos yang toxic atau gaya kepemimpinan yang sangat direktif dan otoriter, dan saya rasa generasi muda sekarang ini lebih kritis dengan hal itu," jelas Nora Jenkins Townson, pendiri konsultan HR Bright + Early.

Baca Juga: Mengenal Individual Contributor, Peran untuk yang Tidak Ingin Bertanggungjawab Mengelola Tim

Survei Robert Half Maret 2025 terhadap 835 pekerja di Kanada menunjukkan, hanya 39% Gen Z yang berminat menduduki posisi manajerial, sedangkan milennial 34%.

Sekitar 50% Gen Z memilih jabatan atau peran non-manajemen, di mana pilihan ini menurun di generasi tua, yaitu Gen X sebesar 44%.

Tidak adanya pelatihan kepemimpinan

Tara Parry, Direktur Permanent Placement Robert Half Canada, menyebut alasan utama mengapa karyawan muda sekarang ini menolak memimpin, yaitu work life balance. Dari responden yang memilih jabatan non manajerial, 51% bilang bisa menjaga balance di posisi sekarang.

“Ketika mereka melihat peran kepemimpinan, mereka sadar keseimbangan yang rapuh antara kerja dan kehidupan pribadi bisa langsung buyar ketika mereka harus bertanggung jawab atas orang lain,” kata Parry.

Parry mencatat kekurangan kandidat manajer sudah terasa sejak 10 tahun lalu di level eksekutif. Sarannya, kenali kualitas kepemimpinan sejak dini, lalu dukung dengan pelatihan.

“Kadang orang nggak mau diangkat untuk peran kepemimpinan karena merasa kami sering tidak memberikan pelatihan sebagai manajer atau memimpin orang lain, sampai mereka sendiri menduduki jabatan itu,” ujarnya.

Baca Juga: Chatbot AI Cenderung Memberi Jawaban Kurang Akurat ke Pengguna yang Bukan Native Speaker

“Kalau kami mulai melatih sebelum mereka masuk ke peran itu, saya pikir lebih banyak orang yang mau diangkat karena merasa siap, bukan malah ambil risiko.”

Buat yang menolak jabatan, spesialisasi jadi pilihan. Char Stark dari Beacon HR bilang Gen Z atau siapa pun yang enggan memimpin tim akan fokus pada niche yang spesifik karena peluangnya memang ada.

Jenkins Townson menambahkan, perusahaan bisa mendesain jalur karier individual contributor. Mereka bisa menjadi mentor junior karena skills mereka, tanpa harus bertanggung jawab dengan perkembangan karier rekan kerja yang mereka mentoring.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Citynews.ca

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X