PejuangKantoran.com - Siapa sangka, dari dunia marketing kini Henry Manampiring beralih ke dunia kreatif seperti film. Hal ini bermula Ketika salah satu bukunya, Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini, diadaptasi menjadi film layar lebar oleh MD Pictures.
Yang lebih mengejutkan, Filosofi Teras bukanlah buku fiksi seperti halnya novel-novel yang diangkat menjadi film. Buku yang sudah dicetak ulang hampir ke-100 kali ini merupakan buku self-development yang menggabungkan kekuatan cerita populer, kedalaman karakter, dan pesan filosofis dari kehidupan sehari-hari.
CEO MD Entertainment Manoj Punjabi, yang akan bertindak sebagai produser, berharap film Filosofi Teras menjadi tontonan yang bisa menjangkau banyak penonton. Selain itu tentunya, bisa berdampak nyata.
Baca Juga: Akhirnya Pendiri Microsoft Bill Gates Mengakui Dua Perselingkuhan di Masa Lalunya
”Jadi di sini all cast sesuai karakter yang dibutuhkan Filosofi Teras. Kami siap syuting Jumat besok (27/2/2026), tapi kapan tayangnya tunggu tanggal mainnya.
“Yang penting kami mau membuat film bagus, karya terbaik dari MD,” kata Manoj, saat jumpa pers, di Gedung MD Place, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Menurut Henry, rencana adaptasi film sebenarnya sudah dimulai 2019, tetapi pandemi membuat semua rencana itu kandas. Ia mengaku sempat kecewa, apalagi sesudah pandemi usai masih tidak ada kabarnya.
"Ternyata tahun ini produksi dimulai, dan sebenarnya jauh lebih baik sekarang. Tahun ini bertepatan dengan Filosofi Teras akan mencapai cetakan ke-100, jadi sungguh timing-nya cantik," ujar Henry, melalui akun Instagram pribadinya.
"Kadang, kalau ada impian kita terasa gagal atau tertunda, semesta sedang menyiapkan yang lebih baik, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita hanya bisa ikhlas namun terus berikhtiar," tambah pria yang sudah menggeluti dunia marketing selama 25 tahun ini.
Baca Juga: 7 dari 10 Karyawan Ternyata Sempat Terpikir untuk Pindah Jalur Karir, Apa Alasannya?
Aliran Stoikisme
Filosofi Teras awalnya ditulis oleh Henry Manampiring (atau Om Piring, julukannya di kalangan pengguna medsos) sebagai semacam pengobatan terapeutik. Tahun 2017, ia didiagnosis major depressive disorder (gangguan depresi berat) oleh psikiater karena mengalami gejala gelisah, cemas, dan tidak semangat.
Bukan kebetulan, ide awal buku ini juga relevan dengan kondisi sosial saat itu, di mana tingkat kekhawatiran dan kegalauan anak muda di Indonesia cukup tinggi menurut survei.
Pria yang pernah menjadi dosen marketing di The London School of Public Relations Jakarta ini lalu mengirimkan naskahnya ke Penerbit Buku Kompas.
Tahun 2018, terbitlah buku yang menawarkan panduan praktis hidup dengan menerapkan ajaran Stoikisme. Aliran ini mengajarkan bahwa ketenangan hidup dan ketahanan mental itu bisa dicapai dengan fokus pada hal-hal yang bisa dikelola diri sendiri.
Artikel Terkait
ChatGPT Kena Cancel Culture gara-gara OpenAI Teken Kontrak sama Militer Amerika Serikat?
Sudah Main di 3 Film Suzzanna, Ini yang Membingungkan Luna Maya Saat Memerani Suzzanna
Karyawan Swasta Berhak Menerima THR yang Dibayar Penuh, Paling Lambat 7 Hari sebelum Lebaran
Hati-hati Chalamet! Michael B Jordan Rebut Gelar Best Actor untuk Film 'Sinners' di Actor Awards
MK Tolak Gugatan Soal Larangan Merokok Saat Berkendara, Ini Alasannya!
57 Persen Gen Z Punya Side Hustle, Tanda Anak Muda Tak Lagi Andalkan Satu Pekerjaan
Fenomena 40 Profesi yang Dinyatakan Rawan PHK Massal: Waktu untuk Beralih Karier?