PejuangKantoran.com - Buat orang yang merasa pekerjaannya sudah sesuai dengan ilmu yang didapat di kampus, mungkin tidak terpikir untuk pindah jalur karir. Tetapi buat yang suka tantangan atau mudah beradaptasi, ganti pekerjaan yang tidak sesuai riwayat pekerjaan sebelumnya mungkin tidak jadi masalah.
Berdasarkan data dari situs pencari kerja Indeed, antara tahun 2022 hingga 2024, sekitar 64% karyawan yang keluar dari pekerjaan ternyata juga melakukan career switch.
Fenomena ini menunjukkan bahwa loyalitas pada satu jenis pekerjaan sepanjang hidup mulai bergeser menjadi fleksibilitas untuk terus belajar hal baru. Tetapi memang nggak semua bidang profesi punya dinamika yang sama dalam hal keluar-masuknya tenaga kerja.
Baca Juga: Sudah Tidak Puas dengan Pekerjaan Saat Ini, Tanda Kamu Harus Pindah Jalur Karir. Apa Tanda Lainnya?
Ada beberapa sektor pekerjaan yang tercatat punya tingkat perputaran yang sangat tinggi. Pekerjaan di bidang logistik (seperti loading dan stocking) serta ritel, misalnya, sekitar 3% pekerjanya berpindah setiap bulan.
Di sektor logistik, satu dari setiap 30 posisi diisi oleh orang yang berasal dari pekerjaan lain setiap bulannya. Sektor perhotelan dan pariwisata bahkan lebih terbuka lagi buat pendatang baru. Sekitar 88% orang yang bekerja di perhotelan berasal dari latar belakang karier yang berbeda.
Sebaliknya, bidang-bidang seperti media dan komunikasi, manajemen, serta seni dan hiburan cenderung jauh lebih stabil. Rata-rata, kurang dari 1,8% pekerja di bidang-bidang ini yang pindah ke industri lain setiap bulannya.
Mengapa banyak yang ingin pindah haluan?
Ada beberapa hal yang bikin orang berani mengambil risiko untuk pindah jalur karir. Laporan dari FlexJobs memaparkan, 7 dari 10 karyawan sempat terpikir untuk pindah bidang tahun lalu.
Motivasi utama mereka adalah mencari pekerjaan yang lebih memuaskan secara personal, atau yang memungkinkan untuk bekerja secara remote.
Baca Juga: Ingin Melakukan Career Switch dan Mencoba Bidang Pekerjaan Lain? Pikirkan Dulu Hal Ini!
Selain itu, sebagian dari mereka juga mempertimbangkan penggunaan AI sebagai faktor pemicunya. Erik Brynjolfsson, profesor ekonomi di Stanford University, bilang, penggunaan AI di tempat kerja bikin banyak orang memikirkan kembali jalur karier mereka.
Mereka ingin mencari pekerjaan yang mengutamakan keterampilan manusiawi yang sulit ditiru mesin, seperti kreativitas dan pemecahan masalah yang kompleks.
Meski begitu, ada juga jenis pekerjaan yang lebih tertutup buat orang luar. Keperawatan dan software developer adalah beberapa contohnya. Sebagian besar orang yang pindah ke posisi perawat (66%) biasanya memang sudah berpengalaman di bidang tersebut.
Bidang-bidang yang membutuhkan lisensi resmi, gelar formal, atau keterampilan sangat khusus, seperti kedokteran, akuntansi, dan hukum, punya standar profesional yang bikin pekerja dari luar bidang tersebut nggak bisa masuk begitu saja.
Artikel Terkait
Cara Ngasih Kritik Pedas tanpa Menyakiti Anak Buah, Biar Kamu Nggak Dianggap Bos yang Toxic
ChatGPT Kena Cancel Culture gara-gara OpenAI Teken Kontrak sama Militer Amerika Serikat?
Eindhoven: Kota Paling “Bebas Stres” di Dunia yang Belum Banyak Orang Tahu
Indonesia–Jerman Perkuat Kerja Sama Ketenagakerjaan, 4.000 Tenaga Kerja Disiapkan ke Eropa
Sudah Main di 3 Film Suzzanna, Ini yang Membingungkan Luna Maya Saat Memerani Suzzanna
Karyawan Swasta Berhak Menerima THR yang Dibayar Penuh, Paling Lambat 7 Hari sebelum Lebaran
Hati-hati Chalamet! Michael B Jordan Rebut Gelar Best Actor untuk Film 'Sinners' di Actor Awards