Produser Film 'Crocodile Tears' secara Khusus Membangun Rumah untuk Lokasi Utama Syuting

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Kamis, 7 Mei 2026 | 22:38 WIB
Proses penulisan skenario "Crocodile Tears" juga digarap sutradara Tumpal Tampubolon, dan berlangsung selama 6 tahun dari tahun 2018 hingga siap syuting tahun 2023. (IMDb)
Proses penulisan skenario "Crocodile Tears" juga digarap sutradara Tumpal Tampubolon, dan berlangsung selama 6 tahun dari tahun 2018 hingga siap syuting tahun 2023. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Setelah keliling dan mendapat pengakuan di 33 festival film internasional, film Crocodile Tears akhirnya akan diputar di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026.

Film ini pertama kali diputar di Toronto International Film Festival 2024 dan terus berkeliling ke festival bergengsi seperti Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, hingga Torino Film Festival dan Red Sea International Film Festival.

Di balik perjalanan panjang film ini untuk menjangkau audiens yang lebih luas, banyak cerita menarik dari para filmmaker dan pemainnya. Berikut beberapa fakta menarik yang sempat dibeberkan lewat konferensi pers Crocodile Tears di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Baca Juga: Sempat Vakum 6 Tahun, Fairuz A. Rafiq Akui Harus Banyak Belajar di Film 'Keluarga Suami Adalah Hama'

1. Penulisan skenarionya memakan waktu enam tahun

Proses penulisan skenario yang juga digarap oleh sutradara Tumpal Tampubolon berlangsung selama enam tahun, dari tahun 2018 hingga siap syuting tahun 2023.

“Memang skenario ditulis dengan sangat detail dan teliti oleh Tumpal. Draft-nya saja mencapai 17 draft. Setiap draft, kita diskusi dan lihat realitanya. Kadang ada adegan yang saya bilang kayaknya kemahalan deh, nggak mungkin saya bikin ini.

"Selain itu, skenarionya juga melalui beberapa script lab di beberapa festival di mana kita bertemu dengan beberapa co-producer sehingga akhirnya kami mendapat funding dari Perancis, Jerman dan Singapura,” ujar Mandy Marahimin, produser dari rumah produksi Talamedia.

2. Rumah dalam taman buaya dibangun agar sesuai skenario

Totalitas produser dalam mencoba mewujudkan apa yang tertulis di skenario sekaligus visi sang penulis juga tidak main-main. Salah satunya saat produser hunting mencari rumah yang akan dijadikan lokasi utama syuting.

Baca Juga: 'Ganteng Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral' Terinspirasi dari Lomba Binaraga di Majalengka

Berhubung rumah yang digambarkan Tumpal sangat spesifik dan detail, Mandy tidak bisa menemukan rumah yang pas.

“Kita tadinya mau nge-cheat. Coba diakali begini, begini, begini. Tapi, kayaknya tetap tidak nyaman. Sampai akhirnya production designer kita, Jafar, bilang 'Bikin aja'.

"Sempat mikir, bikin di mana? Akhirnya, kita putuskan di dalam taman buaya. Kita minta izin sama pemiliknya, apakah boleh bangun rumah. Untung diperbolehkan, asal habis itu dibongkar lagi," ujar Mandy.

Akhirnya, tim Mandy pun membangun rumah yang bisa membantu para pemain memerankan karakter mereka dengan lebih baik. Dengan dibantu, mereka lebih nyaman. Ketika malam, mereka bisa mendengar suara buaya bersaut-sautan, bahkan mencium bau amis buaya di dalam rumah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X