PejuangKantoran.com - Di era "in this economy" di mana situasi serba nggak baik-baik aja, bahkan merek-merek besar di bisnis fast food juga harus berjuang keras untuk bertahan.
Bagi merek-merek tersebut, mempertahankan bisnis lebih sulit daripada membangun yang baru. McDonald’s, misalnya, masih mampu bertahan setelah berdiri sejak tahun 1940.
Resto cepat saji ini melejit pada era 70-an dengan konsep menyajikan makanan panas dengan cepat. Konsep ini diterapkan di kawasan mana pun di mana ada pelanggan.
Baca Juga: Isetan, Department Store Jepang di Singapura, Tutup Gerainya setelah Beroperasi Selama 15 Tahun
McD konsisten dengan konsep tersebut. Jadi mau kamu lagi di Jakarta atau di Paris, rasa Big Mac dan kentang gorengnya bakalan sama. Kecuali, tentunya, tambahan menu-menu rasa lokal seperti Burger Rendang, Nasi Uduk McD, atau Pie Ketan Hitam Kelapa.
Strategi ini memang sudah direncanakan sejak awal oleh pendirinya, Ray Kroc.
“Tujuan kami adalah memastikan bisnis yang berulang berdasarkan reputasi sistem, bukan berdasarkan kualitas dari satu gerai atau operator saja,” begitu tulis Kroc dalam bukunya yang berjudul Grinding It Out: The Making of McDonald’s.
Bakal menyalip Subway?
Di saat para pesaingnya seperti Wendy’s dan Burger King sedang banyak menutup gerai, McDonald’s malah tancap gas dengan rencana ekspansi yang agresif. Target mereka bahkan mencapai 50.000 restoran di seluruh dunia pada akhir tahun 2027.
Perusahaan melihat pembangunan restoran baru sebagai pilar utama pertumbuhan jangka panjang, meski kondisi ekonomi saat ini sedang lesu.
Baca Juga: Banyak Gerainya yang Tutup, Salah Satu Pemegang Waralaba Domino's Pizza Nyatakan Bangkrut
Langkah ini diperkirakan akan membuat McDonald’s menyalip posisi Subway sebagai resto fast food terbesar di dunia berdasarkan jumlah lokasi. Gelar tersebut sudah dipegang Subway sejak 2011. Di Amerika, jumlah gerai Subway lebih banyak daripada gerai McDonald’s sejak 2002.
Tapi, jumlah gerai yang banyak ternyata nggak selalu menguntungkan secara finansial. Analis makanan cepat saji dari Salomon Smith Barney, Mark Kalinowski, pernah membahas hal ini.
"Banyaknya gerai Subway di Amerika memang meningkatkan visibilitas. Tapi pada akhirnya, dari perspektif finansial, hal tersebut bukanlah masalah besar,” ujar Kalinowski.
Dalam beberapa tahun terakhir, Subway bahkan seperti bergerak ke arah yang salah. Resto fast food yang didirikan di Bridgeport, Connecticut, tahun 1965 itu sudah menutup sekitar sepertiga restorannya di Amerika sejak 2016.
Artikel Terkait
Mengenal Gantt Chart, Tools Manajemen Proyek Pakai Visualisasi: Sekali Lihat Bisa Tahu Progress-nya!
Kelebihan dan Kekurangan Gantt Chart, Kapan Harus Memakai Tools Project Management Ini?
Pelajaran Karier dari The Devil Wears Prada 2: Dari Toxic Boss sampai Realita Dunia Kerja
Gunakan 5 Why Analysis Untuk Mengetahui Akar Masalah. Analisis Ini Efektif Diterapkan Pada Apa?
Sempat Vakum 6 Tahun, Fairuz A. Rafiq Akui Harus Banyak Belajar di Film 'Keluarga Suami Adalah Hama'
Duh, Pengangguran di Indonesia Masih Didominasi Lulusan SMA!
DBS Bank Buka Lowongan Kerja Associate, Reporting Specialist, Risk Management Group