Tak Cuma Perkara Murah, Thrifting Juga Mendorong Slow Fashion yang Lebih Berkelanjutan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 22 Maret 2023 | 16:59 WIB
Ilustrasi: Thrift shop umumnya menjual barang-barang yang tergolong fast fashion. (Freepik/Wavebreak Media Micro)
Ilustrasi: Thrift shop umumnya menjual barang-barang yang tergolong fast fashion. (Freepik/Wavebreak Media Micro)

PejuangKantoran.com - Jauh sebelum Presiden Joko Widodo meminta impor baju bekas dihentikan karena dinilai bisa merugikan industri dalam negeri, pertengahan Maret lalu, bisnis baju bekas dari luar negeri sebenarnya sudah lama ada di Indonesia.

Penggemar thrifting pasti pernah merasakan serunya memilah tumpukan baju bekas di Pasar Cimol, Bandung, yang sudah ada sejak 1990-an. Begitu pula dengan Pasar Tugu Pahlawan Pagi di Surabaya, yang mulai ramai sejak awal 2000-an.

Kini, bisnis thrift shop sudah meluas di berbagai daerah. Di Jakarta, orang biasanya mencari baju bekas impor di Pasar Senen, Pasar Santa, atau Blok M Square.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Thrift Shop untuk Baju ke Kantor

Di Surabaya, selain Pasar TP Pagi ada Pasar Gembong yang menjadi pusat baju bekas di kota pahlawan. Ini belum termasuk thrift shop yang beroperasi secara online seperti di Instagram.

Kalau kamu mencari aksesori yang unik-unik, kamu bisa mengunjungi consignment shop atau thrift store yang sering kali menyimpan koleksi baju-baju vintage.

Baju bekas impor ini sangat digemari karena membutuhkan kejelian saat memilih. Jika untung, pembeli bisa menemukan baju branded yang keren dengan harga yang sangat murah.

Menurut penelitian mahasiswa FISIP Universitas Airlangga Surabaya, pada tahun 2015, penjual baju bekas impor di Pasar TP Pagi biasanya membeli barang per bal (dalam karung) dengan harga Rp50.000.

Satu bal bisa berisi 25-50 potong baju, sehingga menjualnya dengan harga Rp10.000-20.000 pun penjual sudah untung. Pembeli bisa pulang dengan membeli tiga potong pakaian sudah ditambah diskon.

Ada dua hal utama yang menjadi prinsip bisnis thrift shop. Selain menawarkan produk fashion yang bagus dengan harga murah, bisnis baju bekas impor ini juga ramah lingkungan.

Mengapa ramah lingkungan, karena mencegah pakaian yang sudah tidak terpakai berakhir di tempat pembuangan sampah. Dengan berbelanja di thrift shop, kita mengurangi limbah baju bekas.

Setiap lembar pakaian bekas yang kamu beli berarti mengurangi satu potong baju yang harus diproduksi di pabrik. Artinya, lebih sedikit energi yang dibakar dan gas yang dilepaskan ke lingkungan.

Baca Juga: Kunci Sukses Bisnis Bill Gates: Pilih Teman dan Sahabat yang Baik

Kebanyakan baju bekas impor ini juga tergolong fast fashion, atau baju-baju ngetren yang modelnya bisa berganti dengan cepat. Daripada dibuang karena sudah tidak ngetren, tentunya lebih baik jika dijual lagi bagi yang masih berminat.

Maka bisnis baju bekas ini juga berkaitan erat dengan prinsip berkelanjutan yang lebih mendesak, mengingat krisis iklim yang akan segera terjadi.

Hanya saja, memang, ketika baju bekas itu diperoleh dari luar negeri (impor), artinya kita menampung "sampah" dari negara lain. Barangkali ini juga bagian dari perhatian Presiden Jokowi ketika meminta bisnis baju bekas impor dihentikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Unair, DHL, Daily Orange

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X