PejuangKantoran.com - Jauh sebelum Presiden Joko Widodo meminta impor baju bekas dihentikan karena dinilai bisa merugikan industri dalam negeri, pertengahan Maret lalu, bisnis baju bekas dari luar negeri sebenarnya sudah lama ada di Indonesia.
Penggemar thrifting pasti pernah merasakan serunya memilah tumpukan baju bekas di Pasar Cimol, Bandung, yang sudah ada sejak 1990-an. Begitu pula dengan Pasar Tugu Pahlawan Pagi di Surabaya, yang mulai ramai sejak awal 2000-an.
Kini, bisnis thrift shop sudah meluas di berbagai daerah. Di Jakarta, orang biasanya mencari baju bekas impor di Pasar Senen, Pasar Santa, atau Blok M Square.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Thrift Shop untuk Baju ke Kantor
Di Surabaya, selain Pasar TP Pagi ada Pasar Gembong yang menjadi pusat baju bekas di kota pahlawan. Ini belum termasuk thrift shop yang beroperasi secara online seperti di Instagram.
Kalau kamu mencari aksesori yang unik-unik, kamu bisa mengunjungi consignment shop atau thrift store yang sering kali menyimpan koleksi baju-baju vintage.
Baju bekas impor ini sangat digemari karena membutuhkan kejelian saat memilih. Jika untung, pembeli bisa menemukan baju branded yang keren dengan harga yang sangat murah.
Menurut penelitian mahasiswa FISIP Universitas Airlangga Surabaya, pada tahun 2015, penjual baju bekas impor di Pasar TP Pagi biasanya membeli barang per bal (dalam karung) dengan harga Rp50.000.
Satu bal bisa berisi 25-50 potong baju, sehingga menjualnya dengan harga Rp10.000-20.000 pun penjual sudah untung. Pembeli bisa pulang dengan membeli tiga potong pakaian sudah ditambah diskon.
Ada dua hal utama yang menjadi prinsip bisnis thrift shop. Selain menawarkan produk fashion yang bagus dengan harga murah, bisnis baju bekas impor ini juga ramah lingkungan.
Mengapa ramah lingkungan, karena mencegah pakaian yang sudah tidak terpakai berakhir di tempat pembuangan sampah. Dengan berbelanja di thrift shop, kita mengurangi limbah baju bekas.
Setiap lembar pakaian bekas yang kamu beli berarti mengurangi satu potong baju yang harus diproduksi di pabrik. Artinya, lebih sedikit energi yang dibakar dan gas yang dilepaskan ke lingkungan.
Baca Juga: Kunci Sukses Bisnis Bill Gates: Pilih Teman dan Sahabat yang Baik
Kebanyakan baju bekas impor ini juga tergolong fast fashion, atau baju-baju ngetren yang modelnya bisa berganti dengan cepat. Daripada dibuang karena sudah tidak ngetren, tentunya lebih baik jika dijual lagi bagi yang masih berminat.
Maka bisnis baju bekas ini juga berkaitan erat dengan prinsip berkelanjutan yang lebih mendesak, mengingat krisis iklim yang akan segera terjadi.
Hanya saja, memang, ketika baju bekas itu diperoleh dari luar negeri (impor), artinya kita menampung "sampah" dari negara lain. Barangkali ini juga bagian dari perhatian Presiden Jokowi ketika meminta bisnis baju bekas impor dihentikan.
Artikel Terkait
Chris Hemsworth Kepergok Naik Motor Sama Istri di Bali, Warganet: Gitu Dong, Pakai Helm!
100 Link Twibbon untuk Menyambut Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka
Jadwal Tanggal Merah dan Cuti Bersama Nyepi 2023, Ada Juga Hari Kejepit Nasional
Selama Ramadhan, ASN yang Bekerja 6 Hari Seminggu Bisa Pulang Jam 14.00, Kamu Pulang Jam Berapa?
Rezky Adhitya Belajar Menjadi Produser Film dari Produser Manoj Punjabi
Jelang Ramadan, Ahmad Pule Tak Pernah Lewati Tradisi Bikin Dodol bersama Keluarga