“Satu keresahan yang saya rasakan melalui film ini adalah ketika kita ingin melawan sesuatu yang sudah rusak, itu dipersulit jalannya dan ini sering terjadi.
“Bahwa sistemnya sudah hancur, untuk memperbaiki sistem itu lebih susah daripada (upaya) yang lain-lainnya!” lanjut aktor yang juga penulis buku Read Without Prejudice, Do Without Doubt ini.
Dari film Pengepungan di Bukit Duri, Omara Esteghlal berharap penonton tidak berfokus pada adegan-adegan kekerasan yang cukup eksplisit di film. Ia ingin penonton menjadikan hal itu sebagai pengingat soal sejatinya akhlak manusia.
“Banyak yang bilang manusia itu rational animals. Bahwa kita adalah binatang yang memiliki rasional dan logika. Semoga film ini jadi pengingat bahwa violence, kebencian tanpa dasar dan sistem yang hancur, itu tidak ada logikanya.
“Maka penting untuk kita bisa kembali menjadi manusia yang rasional dan logis!” pungkasnya.
Pengepungan di Bukit Duri ditayangkan secara serentak di bioskop mulai 17 April 2025. (Syanne Susita)