Kebiasaan itu bikin mereka jadi peka terhadap dinamika sosial juga, misalnya siapa yang nyaman bareng siapa, siapa yang lagi canggung, dan sebagainya.
6. Peka terhadap waktu dan kenangan
Foto itu ibarat mesin waktu mini. Orang yang suka motret sangat mengerti pentingnya mengabadikan satu detik yang nggak bakal bisa diulang. Mereka tahu, suatu hari nanti, foto itu bakal jadi harta berharga buat dikenang.
7. Rendah hati (kadang keterlaluan)
Mereka sering enggan masuk ke frame bukan karena malu, tapi karena nggak ingin jadi sorotan (kadang-kadang supaya sesi foto-foto lebih cepat selesai juga).
Tetapi kadang saking rendah hatinya, mereka jadi kelewat sering menghilang dari cerita. Padahal mereka juga bagian dari momen itu, kan? Tetapi mereka nggak keberatan juga tuh.
8. Menemukan arti lewat memberi
Semua kebiasaan itu sebenarnya kembali ke satu hal: mereka suka memberi. Memberi waktu, perhatian, kenangan, bahkan ruang agar orang lain bisa lebih terlihat. Meskipun keliatannya sepele, cuma motretin orang, sebenernya itu bentuk kebaikan yang tulus.
Tetapi... ada baiknya sesekali kamu juga ikut masuk ke foto. Karena kamu pun bagian dari cerita yang sedang terjadi. Foto bukan cuma soal dokumentasi, tapi soal kebersamaan.
Jadi, kalau kamu biasanya yang memegang kamera, mungkin sesekali coba juga bilang, “Yuk, nanti gantian ya!”