Matcha lalu menjadi bagian penting dalam upacara teh Jepang (chanoyu), yang tidak hanya fokus pada penyajian teh tetapi juga aspek estetika, spiritual, dan filosofi (misalnya estetika wabi, sabi).
Tokoh penting seperti Sen no Rikyū di abad ke-16 sangat berpengaruh dalam menetapkan aturan, tata cara, alat, dan pendekatan estetik dalam upacara teh ini. Rikyu telah mempelajari soal the sejak usia belasan tahun.
Matcha, dalam bahasa Jepang artinya “teh yang digosok” atau “teh yang digiling’. Namun istilah dalam bahasa Tiongkok seperti mocha dan mozicha yang secara literal berarti “teh yang dikurangi menjadi bubuk”, diguga menjadi asal muasal istilah matcha di Jepang.
Matcha di Indonesia
Di Indonesia sendiri, matcha mulai dikenal sejak tahun 2000an awal. Waktu itu, matcha masuk ke Indonesia melalui restoran Jepang, hotel berbintang, dan supermarket impor. Matcha biasanya hadir dalam bentuk matcha ice cream atau dessert khas Jepang (misalnya dorayaki atau mochi rasa matcha).
Di masa ini, matcha masih dianggap produk eksotis dan terbatas pada segmen premium. Pada tahun 2010-2016, kedai kopi Starbucks mulai mengenalkan menu Green Tea Latte ke menu di Indonesia.
Ini awal dari konsumen Indonesia pertama kali mulai mengenal matcha bukan sebagai minuman seremonial/ritual tapi sebagai minuman ringan dan manis ala kafe. Sejak itu, matcha kemudian identik dengan “modern, keren ala jepang”, meskipun belum menjadi tren.
Tahun 2017-2019, mulai muncul kafe spesialis matcha, seperti Uji Matcha di Jakarta. Kafe ini fokus menyajikan matcha otentik Jepang dengan berbagai racikan.
Pada periode ini, konsumen urban (Jakarta, Bandung, Surabaya) mulai melihat matcha sebagai alternatif kopi. Dan media sosial membantu memperkenalkan menu matcha latte, soft serve, atau dessert sebagai konten estetik.
Pandemi Mendorong Perkembangan Matcha
Tren healthy lifestyle yang meningkat sejak pandemi (2020-2023), secara tidak langsung mendorong popularitas matcha. Orang mencari minuman yang lebih sehat disbanding kopi atau minuman manis kemasan.
Matcha menjadi identik dengan superfood yang kaya antioksidan. Dan ini mendorong munculnya menu-menus berbasis matcha, seperti matcha latte, frappe, boba, hingga dessert modern berbasis matcha.
E-commerce juga sangat membantu matcha menjangkau konsumen. Anek matcha, mulai dari matcha ceremonial grade hingga culinary grade relative mudah dijumpai di aneka marketplace.
Saat ini, muncul kafe-kafe khusus matcha generasi baru, misalnya UKI Matcha (dibuka 2024 di SCBD, Jakarta Selatan). Kafe ini yang memosisikan matcha sebagai lifestyle drink untuk Gen Z.