senggang

Tak Hanya Diproduseri Dian Sastrowardoyo, 'Esok Tanpa Ibu' Juga Digarap Filmmaker Asia Tenggara

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:27 WIB
Film "Esok Tanpa Ibu" mengisahkan bagaimana seorang anak mengandalkan AI untuk memenuhi kerinduannya terhadap sosok ibu. (Instagram @filmesoktanpaibu)

PejuangKantoran.com - Tertantang untuk menghadirkan konten film yang berbeda di bioskop, produser Base Entertainment Shanty Harmayn melakukan banyak kolaborasi dalam produksi film terbarunya, Esok Tanpa Ibu.

Rumah produksi yang juga menggarap serial Gadis Kretek ini bekerja sama dengan tim Wahana Kreator. Bersama Gina S. Noer dan Diva Apresya (mewakili Wahana Kreator), Shanty mencoba mengembangkan ide cerita tentang AI yang berupaya menggantikan peran ibu untuk mengasihi dan memberikan empati kepada anak remaja yang kehilangan ibunya.

Dikisahkan, Rama (Ali Fikri) yang kurang akur dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman), dan hanya dekat dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo), harus menghadapi situasi sulit ketika ibunya mengalami koma.

 

Baca Juga: Selain Berakting, Dian Sastrowardoyo Beranikan Diri Jadi Produser di Film Esok Tanpa Ibu

Ketika dirinya makin terpuruk, Rama menemukan i-BU: sebuah tool AI yang membuatnya bisa melihat wajah, suara, dan memahami pikiran ibunya. 

“Film ini sangat kolaboratif dan sangat panjang prosesnya. Pengembangan cerita dimulai bersama dari tahun 2020. Kita ingin menelusuri ide yang cukup menarik tapi kompleks, sehingga perlu dipikirkan dengan baik!” kata Shanty, saat gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Selain dengan Wahana Kreator, Shanty juga berkolaborasi dengan Dian Sastrowardoyo, yang kini sudah memiliki rumah produksi film sendiri, yaitu Beacon Films. Selain sebagai pemeran ibu di film, Dian juga menjadi partner produser dalam soal pendanaan produksi film.

Kolaborasi Shanty dan Dian ini sebenarnya bukan kali pertama, tetapi yang pertama setelah Dian resmi mendirikan Beacon Films.

"Esok Tanpa Ibu adalah awal dari kiprah kami sebagai Beacon Films, perusahaan yang saya dirikan bersama sepupu dan sahabat sepupu saya!” ujar Dian.

 

Baca Juga: 6 Film Indonesia Siap Temani Libur Lebaran di Bioskop, dari Na Willa sampai Danur the Last Chapter

Kolaborasi juga tidak hanya dilakukan dengan partner dalam negeri karena ada beberapa hal dalam produksi film yang juga memerlukan kolaborasi internasional.

Pengambilan gambar di beberapa adegan film dilakukan dengan menggunakan teknologi virtual bersama Refinery Media dari Singapura.

“Satu lagi, film ini juga dikerjakan oleh sutradara asal Malaysia, Ho Wi Ding. Jadi, film ini full Southeast Asia Production lengkap!” terang Shanty, yang dulu ikut mendirikan Jakarta Internatioinal Film Festival (JiFFest).

Halaman:

Tags

Terkini