Banyak Karyawan Punya Kinerja Bagus tetapi Ternyata Sebagian Besar Belum Siap Naik Jabatan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 19 Januari 2026 | 13:07 WIB
Ilustrasi: Meskipun kinerjanya bagus, banyak juga karyawan yang belum siap naik jabatan. (Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi: Meskipun kinerjanya bagus, banyak juga karyawan yang belum siap naik jabatan. (Freepik/Drazen Zigic)

PejuangKantoran.com - Ketika kita sudah bekerja keras, loyal, dan punya jam terbang yang cukup di satu perusahaan, wajar kalau kita berharap bisa naik jabatan.

Namun, sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa naik jabatan tidak selalu menjadi langkah terbaik, baik untuk karyawan maupun perusahaan. Terutama, jika karyawan yang bersangkutan belum siap naik jabatan.

Menurut studi dari Gallup, hanya sekitar 30% manajer yang mendapat jabatannya karena punya latar belakang atau pengalaman supervisi sebelumnya. Sisanya mendapat promosi jabatan karena kinerjanya baik, atau sudah cukup lama berada di posisi sebelumnya.

Baca Juga: Aulia Sarah Menikmati Perannya di 'Sengkolo Petaka Satu Suro' Meski Menguras Emosi dan Fisik

Masalahnya, kinerja bagus sebagai individu belum tentu berarti siap memimpin orang lain. Buktinya, sebanyak 46% responden dalam riset tersebut mengaku justru mampu bekerja lebih baik saat berada di posisi yang lebih rendah.

Lebih dari itu, mereka yang dipromosikan tanpa keterampilan manajerial cenderung kurang terlibat (engaged) dalam pekerjaannya. Dampaknya bukan hanya ke diri sendiri, tetapi juga ke tim yang mereka pimpin. Anggota tim jadi ikut mengalami penurunan semangat dan kinerja.

Temuan ini sejalan dengan konsep Peter Principle, yaitu teori yang menyebutkan tentang seseorang sering naik jabatan berdasarkan kesuksesannya di pekerjaan saat ini, bukan berdasarkan kecocokannya untuk peran berikutnya.

Akibatnya, mereka bisa terus naik sampai akhirnya berada di posisi yang tidak lagi mampu mereka jalani dengan baik.

Dr George Sik, psikolog dan direktur firma konsultan kerja Eras, mengatakan fenomena ini terjadi di hampir semua industri. Dari pemain sepak bola legendaris yang gagal menjadi pelatih, hingga orang sales yang justru kewalahan saat harus memimpin kantor.

Bagi individu, hal itu sering memicu imposter syndrome dan stres, sedangkan bagi perusahaan, hal itu bisa menciptakan kekosongan kepemimpinan yang menyebabkan para pekerja berprestasi yang merasa tidak didukung jadi tersingkir," katanya kepada Metro. "Ini skenario yang merugikan semua pihak. 

Baca Juga: Jadi Kembaran Dodit Mulyanto di Film 'Sebelum Dijemput Nenek', Angga Yunanda Belajar Main Komedi

Lalu, apa tanda paling jelas bahwa seseorang belum siap naik jabatan?

Dr Sik menyebutnya sebagai task-tunnel vision, yaitu kondisi ketika karyawan sangat unggul dalam tugas hariannya, tetapi kesulitan melihat gambaran besar atau tujuan strategis perusahaan.

Di level junior atau menengah, nilai kita diukur dari seberapa banyak dan seberapa baik pekerjaan yang kita selesaikan. Namun, di posisi kepemimpinan, ukurannya berubah.

Dr Sik menjelaskan, nilai kita bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana kita memengaruhi orang lain. Kalau perspektif ini belum terbentuk, mungkin bertahan dulu di posisi kita sekarang justru merupakan pilihan paling bijak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Metro.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X