senggang

Mengapa Penentuan Hilal (Bulan Baru) Menggunakan Hisab dan Rukyat?

Senin, 16 Februari 2026 | 13:35 WIB
Ilustrasi penentuan hilal dengan metode rukyat. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Menjelang Ramadhan atau Idul Fitri/Idul Adha, salah satu yang selalu menjadi diskusi panjang dan seru adalah penentuan awal bulan dalam kalendar hijriah.

Dalam penentuan awal bulan hijriah (termasuk Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah), dikenal dua pendekatan utama: hisab dan rukyat. Keduanya berkaitan dengan penentuan munculnya hilal (bulan sabit pertama setelah ijtimak/konjungsi).

Penjelasannya sebagai berikut:

1. Metode Hisab

Hisab adalah metode perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan dan matahari secara matematis, tanpa harus melihat langsung hilal.

Prinsip ilmiah

Hisab menggunakan data dan rumus astronomi, seperti:

  • Waktu ijtimak (konjungsi bulan–matahari). Konjungsi bulan–matahari adalah peristiwa ketika bulan dan matahari memiliki berada di arah yang sama jika dilihat dari bumi.
  • Tinggi hilal saat matahari terbenam.
  • Sudut elongasi (jarak sudut bulan–matahari).
  • Umur bulan (moon age).

Perhitungan ini berbasis ilmu falak dan astronomi modern, dengan presisi tinggi menggunakan efemeris dan software astronomi.

Baca Juga: Waktu Puasa Terpanjang dan Tersingkat di Dunia dan Penyebabnya

Kelebihan

  • Dapat diketahui jauh hari sebelumnya (bahkan tahunan).
  • Tidak tergantung cuaca.
  • Konsisten dan terukur secara matematis.

Catatan penting

Di Indonesia, kriteria hisab yang sering dipakai merujuk pada standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura), misalnya:

  • Tinggi hilal minimum 3°.
  • Elongasi (jarak sudut antara Bulan dan Matahari di langit) minimum 6,4°.

 

2. Metode Rukyat

Halaman:

Tags

Terkini