senggang

4 Cerita Seru Di Balik Pembuatan 'Para Perasuk', Angga Yunanda Kerepotan Jadi Manusia Silver

Selasa, 21 April 2026 | 19:21 WIB
Anggun sebagai Guru Asri. Film "Para Perasuk" didukung oleh 1.000 pemain ekstra, 200 penari, dan 40 stuntman. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Film Para Perasuk merupakan film panjang ketiga Wregas Bhanuteja yang skenarionya juga ia tulis bersama Defi Mahendra dan Alicia Angelina.

Film ini banyak mengambil inspirasi dari interaksi Wregas bersama adiknya sendiri yang memiliki indra keenam. Sang adik ternyata bisa melihat roh-roh yang ada di sekelilingnya, dan bahkan dibawa pulang sebagai koleksi.

Cerita Para Perasuk sendiri tentang ambisi Bayu (Angga Yunanda), pemuda asal Desa Latas yang dikenal dengan tradisinya, yaitu pesta kerasukan. Pesta ini sudah jadi bagian dari kehidupan warga Desa Latas.

Baca Juga: Terinspirasi Sejak Syuting Filmnya, Maudy Ayunda Sumbang Lagu Karyanya untuk OST 'Para Perasuk'

Bayu menolak untuk menjual rumah dan merantau ke Jakarta bersama ayahnya (Indra Birowo), karena hal itu pernah dilakukan dan membuat hidupnya sulit. 

Ketika mata air keramat tempat para perasuk mencari roh terancam digusur, Bayu bertekad menjadi Perasuk Utama. Ia ingin memimpin pesta besar-besaran untuk mengumpulkan dana demi menebus kembali mata air itu.

Tapi sebelum niatnya kesampaian, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi menyelamatkan desa yang ia cintai.

Dalam konferensi pers Para Perasuk di Epicentrum XXI, Jakarta, beberapa waktu lalu, Wregas Bhanuteja bersama para pemain utama mengungkap keseruan selama syuting film tersebut. Berikut beberapa di antaranya.

1. Biaya produksinya melebihi film-film Wregas sebelumnya

Nilai produksi Para Perasuk memang tidak main-main, jika dilihat dari jumlah kru yang dipekerjakan Wregas. Ada 1.000 pemain ekstra, 200 penari, dan 40 stuntman. Syuting dilakukan di Gunung Kidul selama satu bulan.

Baca Juga: Raih Standing Ovation di Sundance Film Festival, 'Para Perasuk' Siap Keliling di 6 Festival Film Internasional

“Iya, biaya produksinya jauh lebih besar dibanding film pertama dan kedua saya. Buat kasih makan ekstra sekian banyak saja sudah lumayan, ya!

"Belum lagi harus menyiapkan kelopak bunga segar yang secara spesifik harus berwarna pink sebanyak satu mobil boks dan menyiapkan es batu agar kelopak bunga itu tetap segar!” ujar sutradara berusia 33 tahun itu.

2. Angga Yunanda harus dibantu napas dengan tabung oksigen

Banyak adegan sulit yang harus dilakukan Angga Yunanda untuk film ini. Dalam cerita, Bayu sering berkeliling desa untuk mencari roh. Salah satunya dengan cara merayap di tanah. Jadi, banyak adegan yang menampilkan Angga berlari.

Halaman:

Tags

Terkini