Pejuangkantoran.com – Pada dasarnya orang bekerja itu ingin kariernya selalu meningkat, tidak di situ-situ saja. Ini biasanya akan dikaitkan dengan kemampuan kita dalam bekerja.
Namun ternyata, ketika karier stagnan tidak melulu karena ketidak mampuan seseorang dalam bekerja. Ada faktor di luar individu yang sangat berpengaruh, yaitu faktor Perusahaan.
Ada istilah internal mobility rate. Internal mobility rate adalah persentase karyawan yang berpindah peran di dalam perusahaan dalam periode tertentu, tanpa keluar dari organisasi.
Perpindahan ini bisa berupa promosi (naik jabatan) atau rotasi lateral (pindah fungsi/divisi setara). Selain itu, ada juga perpindahan lokasi kerja (mutasi geografis, pindah ke cabang lain) dan perubahan peran kaetika ada proyek strategis.
Dalam sebuah Perusahaan yang internal mobility rate-nya tinggi menunjukkan bahwa organisasi Perusahaan tersebut “hidup”. Organisasi memberi ruang berkembang bagi karyawannnya.
Di sisi lain, ketika internal mobility rate-nya rendah, maka ini indikasi bahwa ada stagnasi karier di dalamnya dan bisa memicu tingginya tingkat turnover karyawan.
Internal mobility ini erat kaitannya dengan kesempatan yang setara (fair opportunity) dan pengembangan karier. Oleh karena itu menjadi penting bagi karyawan untuk mengetahui dan memahaminya.
Baca Juga: Mid-Career Drop Lebih Sering Terjadi pada Perempuan. Begini Cara Menanganinya dengan Baik!
Dampak Pada Karyawan
Karyawan wajib memahami hal ini karena karena dampaknya selain ke karier, juga ke penghasilan, motivasi, dan keputusan untuk bertahan atau resign.
- Saat peluang karier terbuka luas, maka jalan untuk promosi (karier naik) atau eksplorasi (rotasi) juga terbuka lebar. Ini juga akan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk meningkatkan skill secara vertikal (ketika promosi) maupun horisontal (ketika rotasi).
- Dampak lain adalah kenaikan gaji yang lebih cepat ketika terjadi promosi. Seorang karyawan yang naik jabatan tentu saja diiringi dengan kenaikan berbagai macam tunjangan dan gaji pokok. Sementara jika posisinya di situ-situ saja (internal mobility rendah), kenaikan gaji hanya bersifat incremental (kenaikan gaji tahunan) saja.
- Ketika peluang untuk promosi maupun rotasi tinggi, maka karyawan juga akan termotivasi bekerja dengan optimal supaya performanya bagus. Performa yang bagus punya peluang promosi atau rotasi lebih tinggi. Namun ketika semua peluang itu kecil bahkan tertutup, maka akan muncul demotivasi pada karyawan. Dimulai dari disenengagement, karyawan hadir namun tidak bekerja secara optimal, seadanya saja sesuai jobdesc. Ini akan memicu quiet quitting.
- Peluang terbuka luas, banyak opsi peran membuat organisasi seperti ini lebih tahan ketika terjadi restrukturisasi. Ini artinya job security-nya bagus, karier kamu aman. Sebaliknya, ketika ruang berkembang sempit maka saat organisasi berubah dampaknya, karyawan bisa kehilangan pekerjaan.
- Secara umum rotasi posisi itu seperti sebuah penyegaran, ada tantangan baru dan tuntutan atas skill baru. Tentu saja mobilitas seperti ini harus disertai dukungan yang kuat dan baik dari Perusahaan.
- Resign adalah hak setiap karyawan, namun bukan keputusan yang mudah. Apalagi saat ini, tantangan untuk mencari pekerjaan cukup tinggi. Belum lagi ketika kamu berada di usia mid-career (usia 30-40an tahun). Ini di usia yang seharusnya kamu sudah punya pengalaman di level manajerial atau lintas berbagai divisi, bukan level staf. Ini adalah satu hal yang sulit kamu dapatkan ketika berada di Perusahaan dengan internal mobility rendah.
Melihat bahwa dampak internal mobility rate yang rendah pada karyawan, sudah sewajarnya apabila saat ini kamu sudah bekerja, maksimalkan peluang yang terbatas yang ada sambil menyiapkan opsi eksternal. Lakukan ini sejak awal. ***karier
Artikel Terkait
Buat Para Bos, Ini 5 Cara Agar Karyawan Tidak Memilih Quiet Quitting saat Bekerja
Leadership Diuji Saat Lingkungan Pekerjaan Tak Pasti. Pimpin dengan Empati Untuk Menjaga Motivasi Tim
Burnout vs Boreout Sama-Sama Bisa Bikin Kamu Kelelahan, tapi Beda Akar Masalahnya
5 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Kecil yang Bisa Jadi Lompatan Besar buat Karier Kamu
Mendapatkan Tawaran Gaji Final? Jangan Asal Terima! Begini Menghadapi The Final Offer Bluff Trap Ini!
5 Kualitas Manajer yang Bisa Menjadi Pemicu Turnover Karyawan yang Tinggi