senggang

Tren “Solomaxxing”, Ketika Gen Z Nggak Takut Ngejomblo demi Self-Growth

Kamis, 2 Juli 2026 | 13:35 WIB
Hidup ngejomblo kini bukan aib buat Gen Z. Jomblo menjadi pilihan walaupun tidak menolak untuk tetap menjalani hubungan serius. (Pejuang Kantoran/Google Gemini)

PejuangKantoran.com – Gen Z nggak lagi takut hidup sendiri alias ngejomblo. Seperti yang dikutip dari artikel di wired.com, tren memilih sendiri daripada berpacaran ini disebut Solomaxxing. Kalo dulu joblo dianggap nggak laku dan “menyedihkan”, kini buat Gen Z jomblo adalah saatnya menikmati kehidupan single fighter.

Solomaxxing (atau sering disebut Singlemaxxing dan Alonemaxxing) adalah komitmen sadar untuk tetap melajang demi fokus penuh pada pengembangan diri dan kemandirian. Tren ini ramai dibahas di social media karena mengubah stigma kesendirian menjadi sebuah pencapaian hidup yang patut diapresiasi.

Tetapi Solomaxxing bukanlah tanda bahwa seseorang menutup pintu hati selamanya. Tren ini menekankan prinsip untuk tidak asal memilih pasangan sebelum menemukan orang yang energinya benar-benar sejalan. Selama proses pencarian tersebut, mencintai dan memprioritaskan diri sendiri adalah pilihan terbaik yang bisa diambil.

Baca Juga: Meski Memiliki Manfaat, Pacaran dengan Rekan Kerja Juga Ada Dampak Negatifnya

Baca Juga: Ada Perempuan Generasi Z Pacaran dengan AI atau Kecerdasan Buatan, Lebih Romantis, Katanya

Kenapa Solomaxxing bisa populer, berikut alasan kuat di balik tren tersebut:

Realita Finansial: Biaya Kencan Makin Mencekik (Dating Burnout)

  • Dompet boncos akibat inflasi. Inflasi bikin biaya nge-date makin melonjak dan kadang bikin berat di kantong.
  • Dilema 'pria modal bensin'. Tingginya biaya hidup dan pengeluaran harian memaksa sebagian anak muda memilih hemat daripada memaksakan diri mencari pasangan.
  • Stop nge-date demi finansial. Lebih dari separuh anak muda mengaku terpaksa berhenti total dari urusan asmara karena aplikasi kencan dan biaya nongkrong yang boros.

Era Self-Care: Membangun Hidup yang Bahagia Tanpa Drama

  • Fokus penuh ke Me-Time: Alih-alih sibuk pacaran, penganut tren ini lebih memilih menghabiskan waktu dan uang untuk hobi produktif.
  • Investasi ke diri sendiri. Waktu luang dialihkan untuk olahraga, meditasi, bepergian solo, hingga perawatan diri.
  • Bebas dari trigger emosional. Hidup sendiri dinilai jauh lebih tenang karena tidak ada orang lain yang merusak ritme keseharian atau memicu konflik.

Mindset 'Era Kedamaian': Hubungan Romantis Dianggap Melelahkan

  • Peace of mind nomor satu. Berdasarkan survei, hampir separuh anak muda usia 18-34 tahun merasa menjadi jomblo jauh lebih damai daripada punya pacar.
  • Pacaran hambat karier. Sekitar 42% anak muda merasa berkomitmen dalam hubungan justru mengganggu pencapaian target pribadi, finansial, dan karier mereka.
  • Bukan berarti anti-sosial. Tren ini murni tentang pemulihan energi diri, bukan menutup diri dari pertemanan atau interaksi sosial.

Menolak Standar Kolot: Menikah Bukan Lagi Target Utama

  • Gaya hidup mandiri yang stabil. Ilmuwan sosial menyebutkan bahwa hidup melajang sebenarnya sangat stabil bagi orang yang menginginkannya.
  • Melawan stigma Masyarakat. Gen Z perlahan meruntuhkan ekspektasi generasi terdahulu bahwa sukses dalam hidup harus diukur dari pernikahan.

Prinsip ogah rugi. Menjadi jomblo berkualitas dipandang jauh lebih baik daripada terburu-buru berkomitmen hanya karena tekanan sosial.

Tags

Terkini