Legenda Urban asal Minang, 'Urang Bunian' Jelaskan Mengapa Anak Harus Pulang sebelum Maghrib

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:15 WIB
"Urang Bunian" berasal dari urban legend tentang mahluk gaib yang hidup di hutan-hutan Sumatera. (Youtube @cinema21)
"Urang Bunian" berasal dari urban legend tentang mahluk gaib yang hidup di hutan-hutan Sumatera. (Youtube @cinema21)

PejuangKantoran.com - Banyak wilayah di Indonesia yang ternyata menyimpan legenda urban. Salah satunya adalah urang bunian, mahluk gaib yang hidup di hutan-hutan Sumatera khususnya di wilayah Minangkabau, Sumatera Barat.

Legenda urban itu kini difilmkan dengan judul sama, yaitu Urang Bunian. Film ini mengangkat kisah Kapten Teddy (Dimas Aditya) yang melakukan perjalanan ke kampung halaman istrinya di pedalaman Sumatera Barat bersama sahabatnya, Kevin (Fauzan Nasrul). Selama perjalanan, keduanya mengalami berbagai kejadian mistis dan keanehan terkait legenda urang bunian.

Premis cerita seperti ini langsung menarik perhatian Johansyah Jumberan dari DHF Entertainment, rumah produksi yang konsisten mengangkat cerita khas dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Series 'Jakarta Undercover Members Only' Menghadirkan Persoalan Jakarta yang Lebih Kekinian

Johansyah menggaet produser Victor G. Pramusinto untuk menggarap film yang ide awalnya datang dari sutradara Rendy Herpy.

“Rendy datang ke saya dan menyampaikan idenya tentang urban legend dari Sumatera Barat, atau lebih tepatnya Minang. Saya sebelumnya pernah dengar tentang orang bunian karena sebagian dari Sarawak, Pontianak, atau Kalimantan Barat juga nyebut orang bunian.

"Nah, kalau kemarin kita dengan Saranjana dan Kunyank yang mengangkat urban legend dari Borneo, Kalimantan, kali ini kita akan jalan-jalan ke Sumatera,” ujar Johansyah, saat trailer launch Urang Bunian di Signature Park Grande, Cawang, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).

Ide kisah Urang Bunian ini merupakan refleksi dari pengalaman masa kecil Rendy Herpy. Ketika kecil, ia sering dinasihati orang tua untuk tidak boleh bermain hingga larut malam, terutama dekat hutan.

“Kebetulan saya memang orang Sumatera, di mana mitos orang bunian pada saat masih kecil tuh kental sekali. Kalau misalkan dulu keluar rumah, selalu diwanti-wanti jangan keluar maghrib-maghrib. Apalagi di hutan, karena nanti diculik sama orang bunian.

"Jadi akhirnya saya membuat film ini untuk menjawab pertanyaan saya di masa kecil. Emang iya ada orang bunian?” tukas Rendy.

Baca Juga: Sutradara Naya Anindita Angkat Dinamika ART dari Perspektif Berbeda melalui Agensi Rumah Tangga

Tidak hanya sebagai produser, Johansyah juga bertindak sebagai penulis skenario. Ia dibantu oleh budayawan Anton Permana, yang juga berperan sebagai Datuk Hitam di film.

“Secara lokal, cerita ini sudah banyak diteaterkan. Bunian itu orang yang berhunian atau mahluk dua dimensi. Ketika dia berada dimensi alam manusia, dia seperti manusia biasa. Tapi pada saat tertentu dia juga bisa berubah wujud seperti aslinya!” terang Anton.

Menampilkan sosok orang bunian di poster film itu juga tidak sekadar memberikan rasa mencekam. Menurut Johansyah, penggambaran sosok tersebut sudah berdasarkan riset dan masukan dari warga daerah setempat.

“Referensi orang bunian yang kita ambil itu dari penceritaan di daerah Minang, Sumatera Barat. Dia sosok yang berada di hutan. Biasanya bertubuh kecil, kupingnya agak panjang. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lore Chasing: Tren Liburan Spontan di Tahun 2026

Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:15 WIB
X