senggang

Film 'Bisikan Desa Gringsing' Menggunakan Virtual Production untuk Menggantikan Green Screen

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:24 WIB
Bisikan Desa Gringsing mengisahkan tentang entitas supernatural mengerikan yang dengan kejam membunuh siapa pun yang mencoba keluar dari desa tersebut. (Mandela Pictures)

PejuangKantoran.com - Ada yang menarik di balik penggarapan film terbaru produksi Mandela Pictures bersama Oceanus Media Global (OMG Studio), Bisikan Desa Gringsing.

Film yang dibintangi Aghniny Haque, Surya Saputra dan Fatmah Nahdi ini menggunakan Virtual Production (VP) sebagai latar belakang para aktor berakting.

Metode hybrid ini menggabungkan proses pengambilan gambar aktor di studio dengan latar lingkungan virtual, menggantikan penggunaan green screen konvensional.

Baca Juga: Legenda Urban asal Minang, 'Urang Bunian' Jelaskan Mengapa Anak Harus Pulang sebelum Maghrib

“Kita pilih VP karena belum pernah ada yang mencoba ini dalam produksi film horor. Kita adalah perusahaan pertama yang, dengan bantuan OMG studio dari Singapura, partner kita di Singapura dan Malaysia, mencoba mengeksplorasi VP untuk film horor di Indonesia pertama kalinya.

"Jadi dalam pelaksanaannya, tim dari Indonesia harus banyak belajar dengan teknologi yang baru ini,” terang produser Manoj Samtani, saat peluncuran trailer Bisikan Desa Gringsing di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Ternyata tahapan dalam masa persiapan saat memanfaatkan teknologi baru ini tidak mudah. Sutradara sekaligus penulis skenario film, Ivander Tedjasukmana, kesulitan saat menjalani proses persiapan produksi. Ada permintaan dari OMG Studio yang harus dipenuhi secara detail.

“Kalau ditanya bagaimana pengalamannya, banyak obat sakit kepala ya. Tentu saja VP adalah tantangan baru yang saya juga belum pernah lewati. Apa yang biasanya dikerjakan di produksi film biasa tidak dilakukan, di sini harus dilakukan!” ujarnya.

Tahapan yang harus disiapkan adalah menyediakan foto-foto tempat yang akan dimasukkan ke dalam VP. Dalam cerita film kebetulan lokasi latar adalah Kota Subang. Jadi, Ivander harus mengirimkan banyak foto lokasi kepada pihak OMG.

“Supaya kebayang ya, jadi ini bedanya syuting menggunakan VP dan ini yang jadi tantangannya. Pihak OMG harus menciptakan Subang di dalam VP, yang artinya mereka tanya sama kita Subang akan seperti apa.

Baca Juga: Series 'Jakarta Undercover Members Only' Menghadirkan Persoalan Jakarta yang Lebih Kekinian

"Jadi saya pikir mereka cuma minta foto-foto, sudah selesai. Eh, ternyata tidak. Mereka juga minta batunya seperti apa, detail rumput, langit, awan, sampai bentukan jalan tol di Jakarta seperti apa, gedung-gedungnya.

"Jadi, kita mapping Subang dan Jakarta ke dalam VP. Awalnya sangat ribet tapi, when it’s finished, itu amazing sih!” seru Ivander.

Sebagai pemain, berakting menggunakan VP jadi satu pengalaman baru buat Aghniny Haque yang berperan sebagai Hesti. Pendekatannya dalam akting pun sedikit agak berubah.

Sisi positifnya, durasi syuting lebih cepat selesai dan kerja menjadi semakin efektif. Namun, di sisi lain, ia harus banyak mendengar arahan sutradara agar aktingnya bisa sinkron dengan lingkungan sekitar yang diciptakan VP.

Halaman:

Tags

Terkini

Lore Chasing: Tren Liburan Spontan di Tahun 2026

Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:15 WIB