Menentang Penggunaan Fast Fashion, Asmara Abigail Lebih Suka Belanja Baju-baju Secondhand

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 8 Januari 2024 | 21:27 WIB
Model dan pemain film Asmara Abigail enggan mengonsumsi fast fashion. Apa alasannya? (Instagram/ @asmaraabigail)
Model dan pemain film Asmara Abigail enggan mengonsumsi fast fashion. Apa alasannya? (Instagram/ @asmaraabigail)

PejuangKantoran.com - Sebagai lulusan sekolah fashion, Asmara Abigail sangat memperhatikan apa yang ia kenakan. Apapun yang ia kenakan adalah representasi jati dirinya.

Dalam memilih pakaian yang ingin dikenakan, Asmara Abigail mengaku sangat berhati-hati. Yang paling ia hindari adalah membeli baju-baju yang masuk dalam kategori fast fashion.

Yang dimaksud fast fashion menurut Asmara Abigail adalah koleksi pakaian yang proses pembuatannya menjadi semakin mudah dan cepat, karena kebanyakan dikerjakan melalui konveksi atau pabrik.

Baca Juga: Grup Band Smashing Pumpkins Buka Lowongan Kerja Jadi Gitaris, Minat?

“Kalau kita ke mal, itu semua yang kita lihat banyak banget yang fast fashion. Misalnya, kita lihat baju dengan harga segitu, make sense tidak? Apakah benar-benar bisa semurah itu?” ujarnya, saat preview film #OOTD: Outfit of the Designer di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, kita bisa memperhatikan bagaimana proses pembuatan baju yang kita pakai, dari materi yang dipakai, proses pewarnaannya, pengelolaan limbahnya, dan siapa yang membuatnya.

“Selain sebagai identitas, fashion juga harus menghargai proses pembuatannya mulai dari bahan tumbuhan, proses pewarnaan, dan kreasi baju yang kita kenakan ke badan kita.

“Ini pekerjaan banyak orang, dan bagaimana kita menghargainya,” terang lulusan Haute Future Fashion Academy, Italia, ini.

Sayangnya, sedikit yang memperhatikan dampak dari kemajuan industri di dunia fashion. Ada beberapa dampak negatif dari penggunaan fast fashion, salah satunya limbah pakaian akibat seringnya orang membeli baju baru dan membuang yang lama.

Di negara berkembang, limbah fashion sudah bergunung-gunung. Selain itu, kualitas fast fashion biasanya juga tidak bertahan lama.

“Harus dilihat kualitas bajunya seperti apa. Kadang-kadang, kalau kita membeli baju-baju fast fashion, satu atau dua kali pakai, kualitas sudah menurun.

"Dengan fast fashion, kita juga tidak pernah tahu siapa pembuat baju yang kita kenakan. Apakah orang-orang itu dibayar dengan baik? Apakah diperlakukan dengan baik?

Baca Juga: 40% Manajer Enggan Mempekerjakan Karyawan Gen Z, Masa Ada yang Bawa Ortu Saat Wawancara Kerja?

"Apakah brand-brand besar mengambil untung banyak tetapi juga memperlakukan pekerjanya dengan baik?” tanyanya.

Secara pribadi, Asmara lebih senang berbelanja baju-baju secondhand dari vintage store. Menurutnya, baju-baju second (kini biasa disebut thrifting) lebih bisa merepresentasikan kepribadiannya yang enggan mengikuti tren. Model-model bajunya lebih banyak yang unik dan memberi gaya tersendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X