Anna Wintour Mulai Delegasikan Tugas Harian di Vogue AS, Siapkan Suksesi Baru

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Minggu, 13 Juli 2025 | 10:15 WIB
Sosok Anna Wintour sebagai Editor-in-Chief American Vogue. (Instagram/@theannawintour)
Sosok Anna Wintour sebagai Editor-in-Chief American Vogue. (Instagram/@theannawintour)

PejuangKantoran.com - Editor legendaris Vogue Amerika, Anna Wintour, resmi mengumumkan langkah strategis untuk menunjuk pemimpin baru yang akan mengelola operasional harian majalah mode ternama tersebut. Ia akan tetap memegang peran sebagai global editorial director Vogue dan chief content officer di Condé Nast, namun posisi head of editorial content baru akan menangani kegiatan redaksional sehari-hari untuk edisi AS.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari restrukturisasi besar yang dilakukan Condé Nast dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah edisi internasional Vogue sudah lebih dulu mengalami peralihan dari sistem editor-in-chief ke head of editorial content, semua di bawah pengawasan langsung Wintour.

Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap makin luasnya cakupan kerja Wintour yang kini mengawasi hampir seluruh publikasi Condé Nast, kecuali The New Yorker. Dengan adanya pemimpin redaksional baru di Vogue AS, ia dapat lebih optimal membagi perhatian dan strateginya untuk seluruh merek di bawah naungannya. 

Baca Juga: Perkembangan AI Mengubah Cara Lulusan Merancang Karir di Masa Depan, Jadi Lebih Positif atau Negatif?

Rumor tentang mundurnya Wintour dari pucuk pimpinan Vogue AS telah beredar selama puluhan tahun. Namun kali ini, langkah nyata telah terlihat. Apalagi pada Desember lalu, Vogue menunjuk tamu editor pertamanya, desainer Marc Jacobs, yang menampilkan Kaia Gerber sebagai model sampul—dan mendapat sambutan positif.

Selama 37 tahun masa kepemimpinannya, Anna Wintour dikenal sebagai sosok berpengaruh yang merevolusi wajah Vogue. Ia mengganti tren menampilkan model dengan selebritas di sampul, menjadikan Met Gala sebagai panggung budaya pop bergengsi, hingga menjadi penasihat bagi tokoh-tokoh dunia seperti Bradley Cooper dan Serena Williams.

Namun di tengah kemerosotan industri media tradisional dan tuntutan untuk inklusivitas yang lebih besar, Wintour juga mengakui perlunya perubahan. Pada 2020, ia menyatakan Vogue belum cukup memberi ruang bagi kreator kulit hitam. Sejak itu, mulai banyak perubahan dilakukan dalam isi dan struktur editorial.

Baca Juga: Pentingnya Peran HR dalam Melakukan Mediasi Karyawan saat Terjadi Konflik di Tempat Kerja

Meski bukan merupakan pensiun sepenuhnya, langkah ini menandakan awal dari masa transisi menuju era pasca-Wintour. Ini juga merupakan pertama kalinya dalam hampir empat dekade, posisi puncak Vogue AS terbuka bagi kandidat baru—yang diprediksi akan menjadi perebutan sengit di industri media dan mode global.

Belum ada pengumuman resmi mengenai siapa yang akan mengisi posisi head of editorial content Vogue AS. Namun, ini menjadi pergeseran penting kedua tahun ini di tubuh Condé Nast, setelah kepergian Radhika Jones dari Vanity Fair, yang posisinya kini diisi oleh Mark Guiducci dari Vogue.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: BOF

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X