sosok

Geoffrey Hinton, The Godfather of AI yang Menyesal dengan Teknologi Ciptaannya Sendiri

Sabtu, 6 Mei 2023 | 20:09 WIB
Geoffrey Hinton mengaku menerima permintaan untuk berbicara setiap dua menit sejak mengumumkan pengunduran dirinya dari Google. (Instagram @geoffrey.hintone)

PejuangKantoran.com - Jika kamu bertanya-tanya siapa tokoh yang berada di balik teknologi AI atau artificial intelligence (kecerdasan buatan), itu adalah Geoffrey Hinton. Ia bisa dibilang pelopor dalam teknologi ini.

Sebenarnya Geoffrey Hinton melakukannya tidak sendirian. Pada 2012, ia dan dua mahasiswa pascasarjananya di University of Toronto menciptakan teknologi yang menjadi landasan intelektual untuk sistem AI.

Bukan orang biasa
Bisa menciptakan teknologi yang dapat mengubah dunia, sepertinya sudah diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Geoffrey Hinton.

Baca Juga: Pencipta AI Peringatkan, Teknologi Bisa Jadi Ancaman Umat Manusia di Masa Depan

Ayahnya adalah ahli entomologi terkenal, Howard Hinton. Pamannya ekonom bernama Colin Clark.

Geoffrey juga cicit dari ahli matematika dan pendidik Mary Everest Boole. Sementara suami Mary adalah ahli logika George Boole, yang karyanya belakangan menjadi salah satu fondasi ilmu komputer modern.

Kakek buyutnya yang lain adalah ahli bedah dan penulis James Hinton, anak dari ahli matematika Charles Howard Hinton.

Perjalanan Geoffrey Hinton sebagai pelopor AI

Geoffrey, ekspatriat Inggris berusia 75 tahun, adalah akademisi yang sepanjang kariernya didorong oleh keyakinannya tentang pengembangan dan penggunaan AI.

Perjalanannya dimulai di King's College, Cambridge. Ia lulus pada tahun 1970 dengan gelar Bachelor of Arts dalam psikologi eksperimental. Pada 1972, sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Edinburgh, ia memiliki ide yang disebut jaringan neural.

Jaringan neural adalah sistem matematika yang mempelajari keterampilan dengan menganalisis data. Pada saat itu, hanya sedikit peneliti yang mempercayai gagasan tersebut.

Namun, Geoffrey memilihnya sebagai menjadi pekerjaan hidupnya.
Di Universitas Edinburgh inilah Geoffrey dianugerahi gelar PhD dalam bidang AI pada 1978.

Baca Juga: Buat Saingi ChatGPT dan Bard, Elon Musk Akan Meluncurkan Perusahaan AI

Bergabung dengan Google

Setelah meraih gelar PhD-nya, Geoffrey bekerja di Universitas Sussex dan (setelah kesulitan mencari pendanaan di Inggris), Universitas California, San Diego dan Universitas Carnegie Mellon.

Halaman:

Tags

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB