Pencipta AI Peringatkan, Teknologi Bisa Jadi Ancaman Umat Manusia di Masa Depan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 4 Mei 2023 | 21:10 WIB
Geoffrey Hinton, yang dijuluki The Godfather of AI, mengaku menyesal telah menciptakan teknologi tersebut. (Saltwire)
Geoffrey Hinton, yang dijuluki The Godfather of AI, mengaku menyesal telah menciptakan teknologi tersebut. (Saltwire)

PejuangKantoran.com - Prang-orang yang bekerja di dunia IT pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Geoffrey Hinton. Jika kamu belum tahu, ia pelopor terciptanya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

AI adalah teknologi yang menggerakkan chatbot populer seperti ChatGPT.

Saat teknologi ini sedang dipuja-puja dan menjadi bintang, pada 1 Mei 2023 Geoffrey Hinton justru secara resmi bergabung dengan orang-orang yang memberikan kritik terhadap AI.

Ia setuju dengan pendapat yang menyebut bahwa banyak perusahaan yang berlomba dan berkampanye secara agresif untuk menciptakan produk berdasarkan AI generatif, sedang menuju bahaya.

Baca Juga: 8 Tanda Seseorang Kurang Memiliki Kecerdasan Emosional

Geoffrey Hinton baru bebas menyatakan pendapatnya itu setelah berhenti dari Google, tempat kerjanya selama lebih dari satu dekade. Pria yang punya julukan The Godfather of AI ini mengaku sebagian dari dirinya menyesal telah menciptakan teknologi tersebut.

AI bisa menjadi risiko untuk keberlangsungan umat manusia

Terciptanya teknologi AI ini sebenarnya menjadi momen luar biasa bagi industri teknologi, bahkan mungkin merupakan titik balik dalam beberapa dekade terakhir.

Para pemimpin industri percaya bahwa sistem AI bisa sama pentingnya dengan pengenalan browser web pada awal 1990-an. Sistem ini juga memberikan terobosan di berbagai bidang, mulai dari penelitian obat hingga pendidikan.

Namun, yang menjadi ketakutan banyak orang dalam industri ini adalah bahwa mereka seperti melepaskan sesuatu yang berbahaya ke alam liar. AI generatif bisa menjadi alat untuk informasi yang salah.

Suatu saat, menurut orang-orang yang paling mengkhawatirkan teknologi ini, AI bisa berisiko bagi umat manusia di masa depan.

Kekhawatiran Geoffrey Hinton terhadap AI

Tahun 1980-an, saat masih berstatus profesor ilmu komputer di Universitas Carnegie Mellon, Geoffrey Hinton meninggalkan kampus tersebut ke Kanada karena dia mengatakan enggan menerima pendanaan Pentagon.

Saat itu, sebagian besar penelitian AI di Amerika Serikat didanai oleh Departemen Pertahanan. Geoffrey sangat menentang penggunaan AI di medan perang —yang dia sebut sebagai “tentara robot”.

Google menghabiskan 44 juta dollar untuk mengakuisisi sebuah perusahaan yang dimulai oleh Hinton dan dua muridnya di Toronto, Ilya Sutskever dan Alex Krishevsky.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: NY Times

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X