Dari sisi keamanan, hal ini bisa dilihat dari jenis skin booster-nya. Pada dasarnya ada dua macam skin booser, yaitu skin booster cross-links dan non cross-links.
Cross-links bertahan lama di dalam kulit, tapi mengandung chemichal binding agent (bahan pengikat kimia) yang bila digunakan dalam jumlah yang berlebihan hasilnya kurang baik untuk kulit.
Sedangkan skin booster non cross-links relatif lebih aman di kulit dalam penggunaan jangka waktu panjang. Hanya saja, kelemahannya efeknya cepat hilang.
Baca Juga: Kuliah di Turki Semakin Dinikmati, Bisa Belajar dengan Standar Pendidikan Setara Kualitas Eropa
Pada kesempatan tersebut, dr. Ariesta Sari juga memperkenalkan Cellbooster, produk skin booster terbaru dari Swiss. Tidak seperti produk skin booster lain yang ada di pasaran, Cellbooster mengandung bahan-bahan yang saling terikat satu sama lain dengan CHAC Technology.
Teknologi Chac ini meningkatkan stabilitas molekuler agar hasilnya lebih efektif dan tahan lama. Teknologi ini memanfaatkan sifat alami asam hialuronat untuk mengangkut nutrisi penting ke kulit dengan lebih optimal.
Perlu kamu ketahui, kandungan asam hialuronat akan menurun seiring bertambahnya usia, sehingga penyuntikan bahan aktif ini akan membantu memperbaiki penampilan kulit akibat penuaan, terutama untuk menyamarkan kerutan.
Nah, Cellbooster sendiri ada di kategori skin booster non cross-links. Namun teknologi Chac membuat produk ini bisa memodifikasi hyaluronic acid sehingga dikeluarkan secara perlahan-lahan di dalam kulit. Alhasil, efeknya lebih bertahan lama.
Baca Juga: Merek Beretika Itu Menyerah: The Body Shop Menutup Tokonya di Inggris Usai Kesulitan Keuangan
“Itu sebabnya baru satu kali treatment sudah terlihat bagus, karena kita butuh waktu zat tersebut diproses untuk dikeluarkan perlahan-lahan untuk menutrisi kulit,” tambah dr. Tata.
Menurutnya, dalam 4-7 hari sudah kelihatan hasilnya. Down time-nya (masa pemulihannya) pun tidak terlalu lama, kurang lebih dalam 2 atau 3 hari, kulit sudah kembali normal.
Pada produk skin booster lain, down time ada yang mencapai 7 hari hingga 2 minggu.
“Jadi, (dengan down time yang lebih cepat) tidak ada tanda-tanda bahwa kita sedang melakukan treatment,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pekerja Kantoran Wajib Punya Keterampilan Mengelola Utang Pribadi
Utang Produktif, Pilihan Mencari Tambahan Uang dari Pengelolaan Utang untuk Pekerja Kantoran
Generasi Z Jadi Mayoritas Penduduk Pengangguran di Indonesia
Manfaat dan Khasiat Makan Udang Vaname: Tingkatkan Imun Tubuh Sampai Cegah Penuaan Dini
2030, AI Jadi Ancaman Perempuan Pekerja di Amerika Serikat
Utang Konsumtif Pejuang Kantoran Dekat dengan Gaya Hidup
Akhirnya, Komika Agak Laen Penuhi Janji Jadi Manusia Silver