PejuangKantoran.com - Sampai kini, lebih dari satu miliar orang di dunia terlanda obesitas atau kegemukan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO membeberkan data terkininya sebagaimana laporan BBC.com pada 1 Maret 2024.
"Tak hanya orang usia dewasa, anak-anak juga makin banyak yang mengalami obesitas," bunyi riset WHO tersebut.
Obesitas atau kegemukan terjadi karena kelebihan lemak tubuh.
Pemicu obesitas adalah banyaknya asupan kalori pada tubuh yang menumpuk karena tidak terbakar pada proses olahraga dan pergerakan tubuh lainnya.
"Obesitas memicu munculnya penyakit lain," kata WHO.
WHO mencatat, di seluruh dunia, 880 juta orang dewasa menyandang obesitas.
"Sementara, 159 juta usia anak terkena obesitas," kata WHO.
Obesitas
WHO mengatakan bahwa punya catatan terhadap 190 negara yang penduduknya mengalami obesitas.
Dari komposisi jenis kelamin penduduk, sekitar 80 persen penduduk Tonga dan Nauru terkena obesitas.
WHO menambahkan juga, penyandang obesitas sering terlanda sedikitnya 3 jenis penyakit.
"Pertama, orang obesitas atau kegemukan sering terkena penyakit jantung," kata WHO.
Di urutan kedua di belakang penyakit jantung adalah penyakit diabetes atau gula paling mengancam orang kegemukan.
Artikel Terkait
Depopulasi, Ancaman bagi Generasi Z Pekerja yang Kian Kentara
8 Cara Meredakan Sakit Kepala Tanpa Obat : Alami dan Ampuh
Bahaya Bromat dalam Air Mineral Kemasan, Jangan Langsung Percaya Hoax
Siapa Bilang Harus Pakai Kemeja Putih, Ini 7 Warna Pakaian Terbaik untuk Wawancara Kerja
Sudah Dua Dekade, Militer Amerika Serikat Tak Buka Lowongan Kerja
Usai Microsoft, Giliran Sony Pecat Karyawannya
Generasi Z First Jobber atau Pekerja Pertama, Generasi Incaran Marketing Produk Perusahaan
Narendra Kameshwara: antara Passion Fotografi dan Tak Pernah Alami kerja 9 to 5
Jadwal Lengkap Ibadat Jalan Salib Katolik di Jakarta
Muncul Setiap Musim Mudik Balik Lebaran, Apakah Arti Istilah Toeslag atau Tuslah?
Segini Jumlah Bus untuk Mudik Gratis 2024 dari DKI Jakarta
Di Australia, Karyawan Boleh Tolak Terima Telepon dan Email dari Bos Usai Jam Kerja dan Saat Libur, Indonesia Kapan?