Awas, Jangan-jangan Kamu Makan Mikroplastik!

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Minggu, 18 Juni 2023 | 15:58 WIB
sampah plastik di laut (freepik)
sampah plastik di laut (freepik)

PejuangKantoran.com - Menjaga alam termasuk lautan, merupakan tanggung jawab bersama.

Sepanjang sejarah manusia, laut menawarkan manfaat yang tak terbatas untuk keseimbangan alam, bahkan menopang perekonomian. Mencakup 70 persen permukaan bumi, lautan mengangkut panas dari khatulistiwa ke kutub, juga berperan mengatur pola iklim dan cuaca. Berbagai bahan obat-obatan, termasuk obat anti kanker, alzheimer, dan penyakit jantung–bahkan bersumber dari laut.

Perubahan iklim, limbah industri, dan limbah rumah tangga mengubah banyak hal dari laut. Menurut National Ocean Services, 80 persen polusi di laut berasal dari darat, salah satunya dalam bentuk plastik.

Dalam video dokumenternya, ENDEVR memaparkan bagaimana plastik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari laut. Namun yang menjadi paradoks, kita hanya dapat menemukan sebagian kecil plastik di laut padahal keberadaannya ada di mana-mana. Penelusuran ENDEVR berhasil menangkap berbagai fenomena yang terjadi akibat cemaran sampah plastik

Baca Juga: Cara Memilih Sun Protection yang Tepat untuk Kulit saat Cuaca Panas Terik

Perjalanan Sampah di Lautan dan Kembali ke Meja Makan Kita

Jenna Jambeck, seorang insinyur di bidang pengolahan limbah yang telah melakukan studi selama 3,5 tahun, memperkirakan terdapat 8 juta metrik ton plastik di tahun 2010 masuk ke dalam lautan. Dari 275 juta ton limbah plastik, 32 juta ton di antaranya berakhir di lautan.

Jenna mengatakan, permasalahan sampah hanya dapat ditanggulangi di daratan karena setelah berada di perairan luas, hampir tidak mungkin untuk kita dapat mengambilnya kembali.

Perjalanan melacak keberadaan sampah telah dilakukan oleh periset Francois Galgani, Editor-in-chief of The Scientific Journal Marine Pollution Bulletin (Elsevier). Ia menemukan sisa-sisa botol plastik dari tahun 1960 di kedalaman laut 1000 meter, 20 km dari pantai mediterania Prancis. Berdasarkan studiterkini dari Kara Lavender,  Research Professor of Oceanography, jumlah puing plastik di laut dapat mencapai 50.000 miliar yang tersebar dari kutub ke antartika melalui daerah tropis. Dua jenis plastik yang paling umum berada di lautan adalah Polyethylene, material kantong plastik serta Polypropylene, bahan pembuat tutup botol, sedotan, dan pembungkus makanan.

Baca Juga: Penggemar Ungkap Kekecewaan Saat Messi Batal Datang, Ada yang Rela Naik Kapal dari Banda Neira

Sebagian besar potongan-potongan plastik ini berukuran kurang dari lima milimeter–yang kita kenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik menjadi kekhawatiran besar bagi para peneliti karena ukurannya sangat kecil sehingga memiliki kemampuan tak terbatas untuk masuk dalam lingkungan.

Inilah yang membuat mikroplastik dengan mudahnya memasuki rantai makanan. Pada 2015, ilmuwan mengidentifikasi 560 spesies biota menelan mikroplastik dan angka ini meningkat sebanyak 2 kali lipat dalam 20 tahun.

Chelsea Rochman dari Davis University meneliti bagaimana perilaku plastik ketika berada di air laut. Plastik bersifat seperti magnet yang dapat menarik bahan-bahan kimia lain yang terkandung pada air laut. Hal ini disebabkan plastik sendiri merupakan campuran dari berbagai bahan kimia dari proses manufaktur. Beberapa jenis plastik bahkan lebih berbahaya ketika memasuki perairan. 

Menurut temuannya, 25% ikan yang dibeli dari pasar ikan di California dan Indonesia mengandung mikroplastik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: coway

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X