Jonathan Malesic, penulis “The End Of Burnout: Why Work Drains Us And How To Build Better Lives”, mengatakan bahwa khususnya di Inggris dan Amerika, telah berkembang layaknya keyakinan kuasi-religius terhadap pekerjaan.
Banyak orang menganggap pekerjaan tak hanya sebagai sumber keamanan, stabilitas, dan kenyamanan materi, tetapi juga identitas, kepuasan, prestise, kebahagiaan, tujuan, dan makna.
Namun, dengan gejolak ekonomi, politik, dan teknologi, seperti saat ini, ketika kamu memberikan 110% pada pekerjaan, dan hal itu gagal memberikan hasil yang diinginkan, tidak heran kamu merasa gagal.
Padahal, mungkin sebenarnya kegagalan tersebut bukan kesalahanmu. Kamu sedang merasakan burnout karena memiliki perasaan tidak efektif dan kurang berprestasi.
Ini yang mungkin bisa kamu lakukan
Burnout bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan dengan beberapa sesi gym atau seminggu berlibur. Ketika Dr. Jonathan mengalami burnout dan meminta cuti selama lima bulan, ia menemukan semua gejalanya muncul lagi saat kembali bekerja.
“Tidak ada yang berubah mengenai ekspektasi saya terhadap pekerjaan, dan tidak ada yang berubah mengenai kondisi pekerjaan. Tentu saja saya akan kembali merasakan hal yang sama!” ucapnya.
Jadi, yang harus mulai kamu lakukan adalah tidak memprioritaskan pekerjaan dalam hidup. Salah satu hikmah pandemi virus corona adalah adanya eksperimen besar-besaran dalam berbagai cara kerja: WFH, kerja hybrid, dan sebagainya.
Jika kamu tidak dapat mengurangi beban kerja secara signifikan, beristirahatlah dengan serius. Jadwalkan waktu untuk berhenti, jika perlu.
Lalu, bangunlah jaringan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan sama denganmu, yang mungkin dapat membantu.
Baca Juga: Belajar dari Para Atlet Tenis Terkenal, Ini 4 Cara Mereka Menghadapi Tekanan
“Seringkali, burnout adalah soal keseimbangan. Mungkin bekerja 80% lebih baik dari 110%. Orang sering terkejut ketika menurunkan ekspektasinya karena mereka bisa melakukan lebih banyak hal,” kata Dr. Kate.
Terakhir, Dr. Jonathan menyarankan agar manusia harus diberi martabat hanya karena menjadi manusia, bukan karena pekerjaannya. Manusia tidak perlu membuktikan diri melalui pekerjaan.
“Kita harus memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan: Saya penting dan saya berhak untuk berpendapat apa pun tentang pekerjaan saya,” ujarnya. (Elga Windasari)