PejuangKantoran.com - Kamu mungkin bukan pemain tenis terkenal yang ditonton oleh jutaan orang. Namun, pada titik tertentu dalam karier, kamu mungkin akan menghadapi momen berisiko tinggi yang terasa seperti “lakukan-atau-mati”.
Misalnya saja saat wawancara kerja yang sangat kamu inginkan atau presentasi ke klien yang sangat menentukan kenaikan jabatan.
Berikut beberapa penelitian yang didukung para ahli tentang bagaimana memanfaatkan stres pada momen berisiko tinggi untuk keuntungan dirimu.
- Cobalah untuk tidak memikirkan setiap langkah dan jangan terus berlatih sampai akhir
Seperti yang dikatakan pemain tenis profesional Amerika Danielle Collins, “Ini akan terdengar aneh, tetapi kamu harus bermain seolah kamu tidak peduli.”
Baca Juga: Gaji di Indonesia Lebih Kecil Dibandingkan Malaysia dan Singapura, Bagaimana dengan Biaya Hidupnya?
Sian Beilock, seorang ilmuwan kognitif, menjelaskan bahwa dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa ketika atlet berkinerja tinggi menganalisis kinerjanya, hal itu menghambat mereka untuk melakukan yang terbaik.
Ketika tekanan terus berlanjut, bahkan atlet paling berbakat pun bisa terlalu memikirkan apa yang mereka lakukan sehingga menyebabkan mereka “tersedak”.
“Sebaliknya, atlet yang membebaskan perhatiannya untuk fokus pada strategi, hasil yang diinginkan, dan aspek lain dari kinerja mereka, justru tampil lebih baik.” katanya.
Ia menegaskan bahwa kamu tidak bisa meremehkan pentingnya latihan, tetapi hal ini perlu diimbangi dengan kemampuan untuk melepaskan detail langkah demi langkah pada saat ini.
Sian menegaskan bahwa berlatih sampai menit terakhir hanya akan menambah kecemasan dan beban kognitif. Sementara rutinitas menenangkan sebelum melakukan sesuatu berisiko tinggi dapat membantumu siap untuk tampil sebaik mungkin.
- Bersikaplah terbuka tentang ketakutanmu
Dengan mengidentifikasi kekhawatiran terbesar dirimu, hal ini dapat membantu mengetahui apa yang bisa menjadi motivator terbesarmu.
Terkadang, mengetahui apakah kamu memiliki pola pikir menang atau lebih takut kalah dapat membuat perbedaan besar.
Baca Juga: Erick Thohir Sukses Tanamkan Tradisi dan Mental Juara pada Timnas Sepak Bola Indonesia
Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian pada 2014 yang dilakukan Vikram Chib, seorang profesor teknik biomedis di Universitas Johns Hopkins yang mempelajari bagaimana insentif memotivasi kinerja, dan timnya.
Artikel Terkait
Niat Berjemur, Turis Lokal Malah Diusir dari Pantai yang Menghadap Sebuah Hotel di Bali
Tes DNA Tak Hanya untuk Ketahui Garis Keturunan, tapi Juga untuk Kebutuhan Medis
Tidak Ditawari Kerja Setelah Magang Selesai? Jangan Sedih, Ini Hal yang Bisa Kamu Manfaatkan!
Saran Mantan Guru Vokal Agnez Mo untuk Putri Ariani Hadapi Final America's Got Talent 2023
KPK Juga akan Buka Penerimaan CPNS 2023, Ada 214 Formasi yang Tersedia!
Lagu “Halo, Halo Bandung” Diduga Dijiplak oleh Malaysia dan Dijadikan Lagu Anak-Anak
Kuasa Hukum Dirut PT Taspen Nilai Kamaruddin Simanjuntak Serang Harkat dan Martabat Kliennya
Muncul Fenomena Tornado Api di Kebakaran Gunung Bromo yang Makin Meluas, Ini Penjelasan BMKG
Erick Thohir Sukses Tanamkan Tradisi dan Mental Juara pada Timnas Sepak Bola Indonesia
Pengamat Akmal Marhali: Erick Thohir Sukses Bangun Suasana Tim yang Harmonis dan Kondusif