PejuangKantoran.com - Pengalaman pada masa kecil ternyata sangat mempengaruhi perilaku kita di usia dewasa. Mungkin kamu sering mendengar ledekan seperti, "Wah, masa kecil kurang bahagia, nih!" misalnya karena melihat beberapa teman berebut main ayunan.
Namun ledekan itu mungkin bisa menjadi sangat dalam maknanya buat mereka yang waktu kecil tidak pernah merasa benar-benar dicintai. Pengalaman seperti itu bisa membentuk berbagai pola perilaku yang terbawa hingga saat ini.
Meski begitu, ada satu hal yang perlu ditekankan: pengalaman masa kecil yang kurang membahagiakan bukan vonis hidup. Justru, menyadari pola ini bisa menjadi awal dari proses pemulihan dan pertumbuhan diri.
Baca Juga: Perang Harga! American Airlines Kritik Penggunaan AI untuk Penentuan Harga Tiket oleh Kompetitor
Bagaimana mengetahui orang yang masa kecil kurang bahagia? Beberapa tandanya adalah sebagai berikut:
1. Berlebihan dalam menunjukkan kasih sayang
Karena tidak mendapatkan cinta yang cukup di masa kecil, banyak orang mencoba "mengimbanginya" dengan memberi kasih sayang secara berlebihan saat dewasa.
Hal itu bisa dilakukan lewat hadiah, perhatian ekstra, atau pujian-pujian, yang dilakukan dengan harapan akan mendapat balasan cinta.
Sayangnya, cinta sejati tak bisa dibeli atau dipaksakan. Cinta yang sehat datang dari keikhlasan, bukan dari pengorbanan berlebih.
2. Tidak percaya diri dan rendah diri
Baca Juga: Mantan Istri Chris Martin, Gwyneth Paltrow, Ditunjuk Astronomer Jadi “Juru Bicara” Perusahaan
Tanpa validasi emosional di masa kecil, banyak orang tumbuh dengan perasaan bahwa mereka tidak cukup baik. Meskipun mereka bisa melakukan banyak pencapaian, tapi tetap merasa kurang percaya diri.
Ini membuat mereka terus mencari pembuktian dari luar, padahal yang dibutuhkan adalah pengakuan dari diri sendiri bahwa mereka layak dan berharga, apa adanya.
3. Sulit membangun hubungan yang dekat
Rasa takut ditolak atau ditinggalkan sering membuat orang yang masa kecil kurang bahagia menjaga jarak dalam hubungan. Akibatnya, mereka cenderung membangun hubungan dangkal, karena punya keyakinan tersembunyi: “Kalau orang tua saya saja tak bisa mencintai saya, kenapa orang lain bisa?”