Pejuangkantoran.com – Kasus tumbler Tuku yang tertinggal di kereta Commuterline jurusan Tanahabang-Rangkasbitung (24/11/2025) berbuntut panjang yang pada akhirnya berujung terjadi pemecatan terhadap petugas stasiun bernama Argi dan si pemilik tumbler yang bernama Anita Dewi.
Keduanya adalah “korban” cancel culture. Ini adalah fenomena budaya di mana orang mengkritik seseorang yang dianggap telah bertindak atau berbicara dengan cara yang tidak dapat diterima.
Kritikan ini bisa berujung pada penghakiman berupa seruan (melalui media sosial) agar target dikucilkan, diboikot, dijauhi, atau bahkan dipecat dari tempat kerjanya.
Argi korban dari cancel culture unggahan awal Anita Dewi yang “menyalahkan” pihak petugas dan stasiun kereta. Sementara Anita Dewi dipecat dari kantornya karena rentetan respon netizen yang menganggap Anita Dewi tidak berempati dan mesti bertanggung jawab atas pemecatan Argi.
Cancel culture menurut akademisi komunikasi di University of Vermont, Eve Ng, punya dua sisi, yaitu positif dan negatif. Positif sebagai bentuk pengawasan publik dan akuntabilitas sosial. Sementara negatif ketika menjadi mob justice (penghakiman massa) tanpa konteks atau bukti lengkap.
Bagaimana cara menghindari agar kita tidak terlibat dalam cancel culture, berikut paparannya:
1. Berhenti, Periksa Fakta, Jangan Ikut Arus Emosi
Cancel culture sering dipicu oleh:
- Emosi spontan;
- Informasi sepotong/tidak akurat;
- Tekanan sosial.
Sebelum ikut mengecam, lakukan hal ini lebih dahulu:
- Telusuri sumber informasi yang kredibel.
- Baca konteks: waktu kejadian, versi lain, data lengkap.
- Pastikan peristiwa benar-benar terjadi (hindari rumor).
2. Bedakan Kritik, Akuntabilitas, dan Cancel Culture
- Kritik: Mengomentari perilaku secara rasional.
- Akuntabilitas: Memberi ruang seseorang untuk memperbaiki diri.
- Cancel Culture: Menghukum sosial dengan tujuan menjatuhkan reputasi, memboikot total, membuat orang kehilangan pekerjaan tanpa proses adil.
Cara menghindari cancel culture:
- Fokus pada tindakan, bukan menyerang identitas individu.
- Hindari tuntutan “hapus orang ini dari dunia”.
- Usulkan solusi atau perbaikan.
3. Gunakan Bahasa yang Tidak Menghakimi
Saat berdiskusi: