Pejuangkantoran.com – Saat ini, kita sering banget melihat bagaimana warga medsos “menghakimi” seseorang yang dainggap salah atau berbeda dari kelaziman. Tak hanya itu, bullying pun juga terjadi pada objek yang dihakimi tersebut, meskipun belum tentu yang bersangkutan salah.
Ini adalah cancel cuture atau sering juga disebut sebagai call-out culture. Ini adalah fenomena budaya di mana orang mengkritik seseorang yang dianggap telah bertindak atau berbicara dengan cara yang tidak dapat diterima.
Kritikan ini kemudian bisa berujung pada penghakiman berupa seruan (biasanya melalui media sosial) agar target dikucilkan, diboikot, dijauhi, atau bahkan dipecat dari tempat kerjanya.
Biasanya, target cancel culture adalah orang-orang high profile, selebritas atau pejabat publik. Namun, cancel culture sebenarnya juga bisa terjadi di dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu tempat kerja.
Fenomena cancel culture di tempat kerja biasanya terjadi ketika seorang karyawan, terutama public figure internal, seperti pimpinan, influencer perusahaan, atau HR, dianggap melakukan perilaku yang tidak pantas, ofensif, atau melanggar norma etika.
Target kemudian "dihukum secara sosial" oleh rekan kerja atau publik (sering lewat media sosial).
Baca Juga: Cancel Culture di Dunia Kerja, Bagaimana Jika Kamu yang Jadi Korban Boikot Massal?
Dua Sisi Cancel Cuture
Meskipun terlihat “kejam”, namun sebenarnya cancel culture itu seperti dua mata pisau.
Menurut seorang akademisi komunikasi di University of Vermont, Eve Ng, dalam artikelnya yang berjudul “No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation.” di Television & New Media tahun 2020, menyebutkan bahwa, cancel culture itu punya sisi:
- Positif: Sebagai bentuk partisipasi publik dan akuntabilitas sosial (masyarakat menuntut tanggung jawab dari figur berpengaruh);
- Negatif: Bisa berubah menjadi mob justice (penghakiman massa) tanpa konteks atau bukti lengkap.
Tentu saja kita semua harus sadar bahwa cancel culture harus bisa dimanfaatkan sebagai perilaku positif dan dihindari menjadi perilaku negatif.
Agar budaya ini berdampak positif di tempat kerja, kuncinya adalah mengubahnya dari “penghakiman massal” menjadi “mekanisme akuntabilitas dan pembelajaran sosial.”
Baca Juga: Choi Siwon Kena Cancel Culture, Mengapa Boikot Massal Tak Bisa Sembarangan Dilakukan?
Artikel Terkait
Bagaimana Cara Menghadapi Bullying di Kantor? Perusahaan Juga Tak Boleh Tinggal Diam
Film Horor Pasar Setan Mengangkat Isu tentang Cancel Culture di Dunia Maya
Tanpa Disadari, Bullying Juga Kerap Terjadi di Kantor! Bisa Jadi Kamu Salah Satu Korbannya?
Langkah Pertama Hadapi Bullying di Tempat Kerja, Pastikan Setiap Insiden Tercatat!
6 Strategi Cerdas Memantau Media Sosial Karyawan secara Profesional, Jangan Bikin Nggak Nyaman!
6 Aktivitas di Media Sosial Bisa Menghambat Karir, Meskipun Hanya Postingan Candaan