- Apakah kamu memberi ruang orang tersebut untuk menjelaskan atau memperbaiki?
- Apakah kamu lebih memilih edukasi dibanding kecaman massa?
- Apakah kamu sudah mempertimbangkan mekanisme yang lebih tepat (HR, hukum, etika) daripada media sosial?
Jika belum, maka: pertimbangkan kembali.
6. Cek emosi
- Apakah kamu sedang lelah, marah, atau terpancing?
- Apakah kamu sudah jeda minimal 10–30 detik sebelum menekan tombol “post”?
- Apakah kamu merasa “tertekan” karena orang lain sudah ikut menyerang?
Jika ya, maka: tunda.
Baca Juga: 6 Aktivitas di Media Sosial Bisa Menghambat Karir, Meskipun Hanya Postingan Candaan
7. Cek dampak jangka panjang
- Apakah kamu siap jika postingan ini dibaca atasan, keluarga, atau muncul 10 tahun kemudian sebagai jejak digital?
- Apakah komentar kamu akan memperbaiki situasi atau justru membuat orang semakin defensif?
- Apakah kamu bangga jika postingan ini jadi screenshot?
Jika ragu, maka: jangan unggah.
Selain itu, ada cara cepat dengan rumus ringkas yang bisa kamu lakukan dalam 3 detik, yaitu:
“Apakah postingan ini membangun atau merusak?”
Kalau merusak, maka: hapus. Dengan begitu kamu bisa menghindari cancel culture. ***