Pejuangkantoran.com – Cancel culture jelas bisa menjadi budaya yang berdampak negatif. Cancel culture kurang lebih adalah mengkritk pada orang lain yang dianggap berbeda dari si pengkritik atau yang tidak bisa diterima oleh si pengkritik.
Cancel culture (apalagi di media sosail) bisa menjadi mob justice (penghakiman massa) meskipun belum tentu yang dihakimi salah. Korban cancel culture bisa ditekan habis-habisan oleh massa sehingga stres dan pada kasus-kasus tertentu bisa dipecat dari tempat kerjanya.
Cancel culture di media sosial memang jauh lebih “kejam”. Ini karena yang mengomentari bisa anonim, tidak berhadapan langsung dengan objek cancel culture, sehingga bisa berkomentar apa saja tanpa ada rasa tanggung jawab atas efek terhadap si korban.
Berikut ini check list praktis sebelum memposting di media sosial agar kamu tidak terjebak cancel culture.
1. Cek informasinya
- Apakah sumbernya jelas dan kredibel?
- Apakah konteksnya lengkap (bukan potongan video 5 detik)?
- Apakah kamu sudah mengecek dua sisi cerita (yang biasanya bertentangan)?
- Apakah ini opini atau fakta?
Jika “tidak yakin”, maka jangan posting.
Baca Juga: Agar Tak Terulang Kasus Tumbler Ini 10 Cara Menghindari Terlibat Dalam Cancel Culture
2. Cek niat kamu
- Apakah kamu ingin membantu menyelesaikan masalah, bukan mempermalukan orang?
- Apakah kamu posting karena marah, benci, atau ingin dianggap “paling benar”?
- Apakah komentar kamu menambah solusi atau malah hanya memperbesar keributan?
Jika niatnya hanya melampiaskan emosi, maka: jeda/tahan dulu.
3. Cek risiko merugikan orang
- Apakah postingan kamu bisa ditafsirkan sebagai serangan terhadap personal?
- Apakah kamu sedang menyerang identitas orang (bukan perilakunya)?
- Apakah kamu sedang membantu kerumunan online mengecam seseorang tanpa bukti?
- Apakah postingan kamu berpotensi membuat seseorang kehilangan pekerjaan tanpa proses adil?
Jika jawabannya “iya”, maka: batalkan.
4. Cek gaya bahasa
- Apakah kamu menggunakan bahasa yang sopan dan fokus pada perilaku, bukan karakter?
- Apakah kamu menambahkan ajakan membangun, bukan menghukum?
- Apakah kamu menghindari kata-kata absolut seperti “hapus”, “cancel”, “musnahkan”, dan sebagainya?
Jika bahasanya terlalu keras, maka: lunakkan.
5. Cek proses: kritik atau cancel culture?
Artikel Terkait
Jangan Sembarangan Posting Di Sosmed Karena Social Media Bisa jadi CV Kamu!
Cancel Culture di Dunia Kerja, Bagaimana Jika Kamu yang Jadi Korban Boikot Massal?
Adolescence, Menguak Sisi Gelap Efek Media Sosial pada Praremaja dalam Teknik One Continuous Shot
Awalnya buat Refreshing, tapi Penggunaan Media Sosial di Tempat Kerja Bisa Berdampak Buruk!
Jejak Digital Sulit Dihapus! Fitur Baru ChatGPT Bikin Ribuan Percakapan Pribadi Bocor di Google
"Menghakimi" Rekan Kerja alias Cancel Culture, Bisa Diarahkan Menjadi Perilaku Positif dengan 6 Cara Konkret Ini