Pejuangkantoran.com – Pernah merasa gelisah tidak karuan saat berangkat kerja karena ponsel ketinggalan di rumah? Ini yang dsebut sebagai nomophobia alias no mobile phone phobia atau rasa takut, cemas, atau tidak nyaman yang berlebihan ketika seseorang tidak dapat mengakses ponselnya.
Istilah nomphobia pertama kali muncul pada tahun 2008 saat YouGov melakukan surveI atas permintaan kantor pos di Inggris terhadap 2.163 responden dewasa. Penelitian ini menunjukkan fakta bahwa sebanyak 53% responden mengalami kecemasan terkait ponsel.
Mereka mengaku merasa cemas ketika kehilangan ponsel, ponsel lowbat atau habis baterai, kehabisan pulsa, tidak ada sinyal jaringan, tidak bisa menerima panggilan, SMS, atau email.
Penelitian YouGov 2008 penting bukan karena membuktikan nomophobia sebagai penyakit, melainkan karena menjadi salah satu studi pertama yang menunjukkan bahwa ponsel telah menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial manusia.
Karena, pada kenyataannya di kehidupan modern ini, kehilangan akses ke ponsel dapat memicu respons emosional yang nyata. Ketergantungan psikologis terhadap teknologi sudah terlihat bahkan sebelum era smartphone modern dan media sosial.
Baca Juga: Indonesia Jadi Negara dengan Waktu Penggunaan Ponsel Tertinggi di Dunia Tahun 2025
Saat survey YouGov ini dilakukan pada tahun 2008, penggunaan ponsel masih sebatas untuk SMS, telepon, dan email sederhana. Sementara saat ini, ponsel sudah menjadi alat serbaguna. Tak hanya sebagai alat komunikasi sederhana seperri telepon, SMS, atau email sederhana, namun jauh lebih kompleks seperti komunikasi visual (video call), kamera, mobile banking, hiburan, alat kerja, alat penyimpan dokumen, alat navigasi, hingga sebagai personal trainer.
Oleh karena itu, jika survei yang sama dilakukan sekarang pada era WhatsApp, media sosial, mobile banking, navigasi GPS, dan kerja jarak jauh, banyak peneliti menduga tingkat kecemasan akan lebih tinggi dibandingkan hasil tahun 2008. Sehingga, ketika seseorang kehilangan akses terhadap ponselnya, maka seolah-olah ia “kehilangan kehidupannya”.
Sebenarnya pada tingkat ringan, hal ini normal. Yang menjadi masalah adalah ketika kecemasan tersebut menjadi berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari:
Kecemasan yang berlebihan. Misal, panik saat baterai tinggal 10–20%, padahal masih ada charger atau akses listrik. Atau sangat gelisah ketika ponsel tertinggal selama beberapa jam.
Lalu, melakukan pengecekan ponsel secara kompulsif. Misal, mengecek ponsel setiap beberapa menit meskipun tidak ada notifikasi.
Atau kerap secara refleks membuka ponsel meskipun baru saja memeriksanya, dan sebagainya. Sebenarnya cukup umum saat ini dengan kompleksitas fungsi ponsel, orang bisa mengecek ponsel puluhan hingga ratusan kali per hari.
ponselBaca Juga: Stop Cek Ponsel Tiap 5 Menit agar Kerja Tidak Keteteran! Coba 4 Cara Ini untuk Melakukannya
Namun pada nomophobia yang lebih berat, perilaku ini terasa seperti dorongan yang sulit ditahan. Alh asil, perilaku ini juga bisa mengganggu konsentrasi.