Pejuangkantoran.com – Dua event maraton bertaraf internasional baru saja digelar di Indonesia. Event tersebut adalah Jakarta International Marathon (Jakim) yang diakui sebagai Elite Label Road Race dari World Athletics dan Jogja Marathon (JogMar) yang Certified Measured Course dari World Athletics.
Kategori yang diadakan adalah 5K, 10K, half marathon, dan full marathon.
Dua event yang berurutan dalam dua pekan ini menarik minat belasan hingga puluhan ribu pelari domestik dan internasional. Pesertanya mulai dari pelari elit dunia hingga recreational runners.
Ada satu kesamaan yang bisa terjadi antara pelari elit dan recreational runner sehabis ikut lari jarak jauh, terutama 10K, half marathon, dan full marathon, yaitu kemungkinan sama-sama bisa terkena runner’s toe.
Runner's toe adalah istilah umum untuk cedera kuku kaki yang sering dialami pelari akibat benturan atau gesekan berulang antara jari kaki dan bagian depan sepatu saat berlari.
Dalam istilah medis, kondisi seperti ini bisanya disebut sebagai subungual hematoma. Ini adalah penumpukan darah di bawah kuku.
Namun, istilah runner's toe juga dapat mencakup memar, nyeri, atau kerusakan kuku akibat aktivitas lari.
Apa Penyebab dan Gejalanya?
Runner’s toe ini bisa terjadi terutama mereka yang ikut lari 10K, half marathon, full marathon, downhill running, latihan dengan volume tinggi, atau menggunakan sepatu yang terlalu sempit atau terlalu pendek.
Oleh karena itu, pelari yang cukup berisiko tinggi kena runner’s toe adalah pelari marathon dan ultramarathon. Namun pegiat olahraga lain yang juga rentan adalah pendaki gunung, pemain sepak bola, atau olahraga yang banyak melibatkan lari dan berhenti mendadak.
Runner’s toe ini diakibatkan ketika jari kaki yang mengalami benturan berulang dengan bagian dalam-depan sepatu. Benturan berulang kali ini bisa menyebabkan pembuluh darah di bawah kuku pecah.
Gejala yang umumnya ditemukan adalah:
- Kuku berubah warna menjadi merah tua, ungu, cokelat, atau hitam.
- Nyeri atau rasa berdenyut di bawah kuku.
- Kuku terasa sensitif saat ditekan.
- Pada beberapa kasus, kuku menjadi longgar dan akhirnya lepas.
Namun, tidak semua runner’s toe terasa sakit. Tak jarang pelari baru menyadarinya saat melihat kukunya menghitam beberapa hari setelah latihan atau lomba.