PejuangKantoran.com - Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK adalah penyakit pernapasan kronis yang disebabkan oleh paparan jangka panjang zat-zat berbahaya seperti asap rokok dan polusi udara. Penyakit ini menyebabkan gangguan serius pada fungsi kesehatan paru.
Gejala PPOK biasanya ditandai oleh keluhan sesak napas, batuk kronis, dan produksi dahak berlebihan. Sebagai akibat dari sesak napas ini, orang dengan PPOK ini akan cepat lelah dan tidak optimal dalam melakukan aktivitas sehari-harinya.
Baca Juga: Suka Nonton Video Mukbang? Hati-Hati, Tontonan Ini Bisa Memicu Gangguan Makan!
Namun, seperti yang dituturkan oleh dr. Triya Damayanti, SpP(K), PhD, ada temuan yang cukup mengejutkan dari penelitian yang dilakukan oleh FKUI dan Vietnam. Sekitar 6,3 persen PPOK dialami oleh orang atau pasien yang bukan perokok.
"Responden yang dipilih bukan perokok, secara random, di kota maupun di desa," kata dr. Triya, saat kerjasama antara Kemenkes, PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), dan GSK untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang PPOK di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta, Senin (29/5/2023) lalu.
"Jenis pekerjaannya tidak terinci. Bisa ibu rumah tangga, pekerja kantoran, atau pekerjaan lainnya. Penelitian dilakukan dengan pemeriksaan spirometri," tambahnya.
Kelebihan penelitian ini adalah sudah dilakukannya pemeriksaan terunjang untuk menentukan apakah responden mengalami obstruksi (penyumbatan) atau tidak.
Ketika responden ada keluhan sesak, batuk berdahak, dan saat di-spirometri ternyata ada obstruksi, itulah yang dijadikan sebagai diagnosis PPOK.
"Dari situ menunjukkan adanya awareness bahwa penyebab PPOK tidak saja karena asap rokok. Ada sebab lain yang perlu diperhatikan," terang dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Persahabatan ini.
Baca Juga: Stop Merokok Sekarang Juga, Risiko Kematian Akibat Jantung Koroner Turun 50 Persen
Di Indonesia, pajanan bio mass (polusi udara) banyak dialami karena masih banyak masyarakat yang menggunakan kayu bakar.
Selain itu, orang yang berpotensi mengalami PPOK adalah para perokok pasif (terkena pajanan asap rokok), orang-orang sering terpajan bio mass, serta mereka yang bekerja di pabrik atau di tambang yang tidak menggunakan alat pelindung diri dengan baik.
PPOK bisa berujung pada disabilitas hingga angka 10 persen. Lebih lanjut, dr. Triya menjelaskan bahwa usia produktif manusia di antara 35-40 tahun. Begitu dia terdiagnosis PPOK maka dia menjadi disabilitas karena dia tidak bisa bekerja secara optimal.
"Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan tenaga atau gerak otot, itu akan terganggu. Kenapa? Karena pasien PPOK itu sesaknya terus-menerus. Berbeda dengan sakit asma. Kalau lagi serangan, minum obat, dia bisa kembali seperti orang normal.
"Kalau pada PPOK, itu sesak napasnya makin lama makin memberat, gradual dan progesif. Yang tadinya berjalan 1 kilometer tidak masalah, makin lama 100 meter saja sudah tidak kuat.