bugar

Diskriminasi ODHA Masih Kuat, Padahal HIV/AIDS Bisa Dikontrol dengan Rutin Minum Obat

Sabtu, 3 Desember 2022 | 12:31 WIB
Ilustrasi: HIV/AIDS bisa dikontrol dengan minum obat secara teratur. (Freepik/Pikisuperstar)

PejuangKantoran.com - Virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh terdeteksi pertama kali pada 1983. Sejak itu, banyak stigma dan diskriminasi yang diterima oleh ODHIV (Orang dengan HIV) dan ODHA (Orang dengan AIDS). Mereka dijauhi, dikucilkan, bahkan mengalami kekerasan dari lingkungan karena dianggap mengidap penyakit mematikan yang menular.

Demi mencegah diskriminasi, edukasi mengenai ODHIV/ODHA telah digulirkan dalam berbagai platform sejak kasus AIDS ramai dibicarakan. Salah satunya, serial 21 Jump Street Season 2 Episode 13 (1988), yang menggambarkan bagaimana ODHA mengalami diskriminasi di sekolah. Tak hanya dikucilkan, haknya pun dilanggar dengan tindak kekerasan pemukulan. Polisi muda Tom Hanson (Johnny Depp) pun ditugaskan untuk mendampingi anak tersebut. Selain mengangkat isu diskriminasi, episode itu juga menggambarkan kekhawatiran seseorang akan tertular saat berdekatan dengan ODHA.

Baca Juga: Lowongan Public Relations Gaji Rp15.000.000 - Rp25.000.000 di Kantor Akuntan Publik, Kuningan, Jaksel

Di Indonesia, diskriminasi terhadap ODHIV dan ODHA pun masih berlaku. Hal ini dipaparkan oleh Mirza Revilia, ODHA yang kini aktif di Jaringan Indonesia Positif. Vivi, begitu dirinya kerap disapa, tertular HIV/AIDS dari mantan suaminya yang pengguna narkoba.

“Saya sudah 20 tahun hidup dengan HIV. Awal saya memeriksakan diri tahun 2002 justru karena anak sering sakit. Ketika diperiksa ternyata HIV positif, jadi saya juga periksa. Saat keluarga dan lingkungan tahu, saya jadi dikucilkan, dijauhi. Saya mencari-cari informasi mengenai AIDS ini, lalu saya cetak dan bagikan agar mereka tahu,” papar Vivi, saat acara Bumame #AIDtoStop bersama Yayasan AIDS Indonesia di Anomali Coffee, Senopati, Jakarta, Kamis (1/12/2022) lalu.

Yang patut disayangkan, Puput, putrinya, turut mendapat perlakuan dikriminasi di sekolahnya. Tenaga pengajar yang semestinya memiliki pemahaman yang baik mengenai isu-isu kesehatan seperti ini, ternyata masih kurang teredukasi mengenai HIV/AIDS.  

Baca Juga: Umur 30 tapi Belum Punya Tabungan? Ini Besar Tabungan yang Harus Dimiliki

“Di sekolah si Puput dijauhi setelah ketahuan membawa obat dan dicek oleh sekolah. Pihak sekolah juga sangat takut dan menjauh. Apalagi Puput suka main basket, kalau terluka berdarah takut bisa menularkan,” lanjut Vivi, yang kini telah menikah lagi dan punya anak, tanpa tertular HIV. Adapun Puput akhirnya meninggal dunia karena sering sakit akibat kekebalan tubuhnya yang rendah.

Beruntung, di saat merasa sendiri Vivi tetap mendapat dukungan moral dan konseling dari Yayasan AIDS Indonesia (YAIDS). Organisasi nirlaba ini terus meningkatkan kepedulian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan penanggulangan epidemi AIDS.

Serukan kesetaraan
Tema “Equalize” diangkat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menyerukan kesetaraan pada Hari AIDS Sedunia 2022. Bumame, sebagai perusahaan penyedia layanan kesehatan di Indonesia, bekerjasama dengan YAIDS meluncurkan kampanye #AIDtoStop untuk membantu menghentikan kesalahpahaman, pengucilan, serta perlakuan tidak adil kepada ODHIV/ODHA.

Baca Juga: Perempuan yang Ber-Makeup Ringan di Kantor Lebih Sering Dapat Promosi Jabatan

HIV-AIDS, menurut Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, peneliti, Konsultan Hematologi-Onkologi, dan penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia, bisa dikontrol dengan minum obat antiretroviral secara teratur. Tidak lagi sakit, tidak perlu rawat inap, bisa menikah dan punya anak, dan anaknya pun tidak tertular.

“Saya memimpikan semua orang yang terinfeksi HIV bisa terdeteksi, sehingga bisa memutus seluruh rantai penularannya. Karena dengan pengobatan yang rutin, jumlah virus di tubuh bisa sangat berkurang sehingga tidak bisa menularkan ke pasangan atau menurun di anak,” kata pendiri Yayasan Pelita Ilmu (YPI) dan Yayasan Lupus Indonesia (YLI) ini, dalam kesempatan yang sama.

Dari semua yang melakukan perilaku berisiko HIV atau tersangka HIV, saat ini baru 80% yang memeriksakan diri. Jika semua terdeteksi, memiliki akses ke pengobatan yang memadai dan mau mengonsumsinya secara rutin, Prof Zubairi optimis kita bisa melenyapkan HIV di dunia. (Khema Devi)

Tags

Terkini