bugar

Efek Negatif Intermittent Fasting Perlu Diketahui Meskipun Efektif Menurunkan Berat Badan

Selasa, 13 Desember 2022 | 08:00 WIB
Ilustrasi: Intermittent fasting menerapkan aturan puasa 16:8, di mana kita puasa 16 jam dan bebas makan pada 8 jam sisanya. (Freepik/PV Productions)

PejuangKantoran.comIntermittent fasting boleh dibilang salah satu metode diet paling populer saat ini. Beberapa selebriti yang diketahui menganut pola diet ini antara lain Halle Berry, Hugh Jackman, Kim Ji Hoon, Melaney Ricardo, dan Kirana Larasati.

Diet intermittent fasting mengharuskan kita membatasi asupan makanan beberapa jam dalam sehari, atau beberapa hari dalam seminggu. Tujuannya untuk mengontrol kebiasaan makan dan menurunkan berat badan.

Metode diet ini menerapkan beberapa aturan, misalnya 14:10, di mana orang berpuasa selama 14 jam, lalu 10 jam sisa waktu pada intermittent fasting kita bebas untuk makan.

Baca Juga: Тips Mengurangi Meeting Agar Pekerjaan Kamu Nggak Keteteran

Atau aturan 16:8, di mana kita berpuasa selama 16 jam, selebihnya kita bisa makan sepuasnya. Misalnya, kita mulai puasa pukul 20.00, maka kita baru berbuka puasa pukul 12.00 esoknya.

Ada pula orang yang menggunakan strategi diet puasa yang sedikit berbeda, yaitu 4/3 atau 5/2. Dalam pengaturan puasa ini, seseorang makan secara normal untuk empat atau lima hari per minggu, kemudian membatasi asupan makan hanya 500 sampai 600 kalori pada dua atau tiga hari sisanya.

Manfaat intermittent fasting
Beberapa studi membuktikan bahwa diet puasa ini efektif dalam membantu kita menurunkan berat badan dan mengatasi obesitas.

Sebuah meta-analisis Canada dari 27 uji coba yang diterbitkan pada tahun 2020 menemukan, orang yang menggunakan diet puasa tersebut bisa menurunkan hingga 13% berat badannya tanpa efek samping yang serius.

Kemudian para peneliti dari Intermountain Medical Center, Salt Lake City, Utah, menerbitkan sebuah meta-analisis dari lima studi pada 2015 yang menemukan keuntungan tambahan.

Baca Juga: Lowongan UI/UX Writer Intern di PT Bank BTPN Tbk buat Para Lulusan Baru dan Mahasiswa Tahun Akhir

Dalam kelompok studi tersebut, orang yang menerapkan diet puasa berkurang kemungkinannya mengembangkan penyakit akibat penyempitan arteri coroner atau diabetes.

Orang-orang yang menerapkan intermittent fasting juga diketahui memiliki kadar HDL (kolesterol “baik”) yang lebih tinggi, dan kadar LDL (kolesterol “jahat”) dan trigliserida yang lebih rendah, begitu menurut sebuah penelitian dari Brazil (2018).

Kadar LDL dan trigliserida yang tinggi bisa menyebabkan dinding arteri mengeras, membatasi aliran darah, dan meningkatkan risiko penyakit jantung, serangan jantung atau stroke.

Sebaliknya, kadar HDL yang tinggi menghilangkan senyawa berbahaya dari tubuh dan mengurangi risiko kondisi terkait jantung sebagai hasilnya.

Para pendukung diet ini juga mengatakan, intermittent fasting mencegah kita ngemil sepanjang hari.

Halaman:

Tags

Terkini