Keluhan Backpain Akibat WFH Meningkat Selama Pandemi

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 16 November 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Jangan dikira posisi ini nyaman. Inilah yang memicu keluhan backpain akibat WFH. (Unsplash/Mimi Thian)
Ilustrasi: Jangan dikira posisi ini nyaman. Inilah yang memicu keluhan backpain akibat WFH. (Unsplash/Mimi Thian)

PejuangKantoran.com - Banyak orang kembali masuk ke kantor dengan keluhan pundak kaku atau sakit leher setelah berjam-jam membungkuk di depan laptop mereka di meja dapur. Setelah dua tahun menerapkan work from home (WFH), mereka baru menyadari bahwa bekerja dari rumah ternyata memicu keluhan backpain. Di Inggris, puluhan ribu orang lainnya dilaporkan mengidap sakit jangka panjang karena cedera selama lockdown.

Office for National Statistics menyimpulkan, keluhan backpain meningkat akibat WFH. Terlihat dari peningkatan jumlah orang yang tidak layak untuk bekerja karena cedera leher dan punggung. Secara keseluruhan, menurut ONS jumlah orang yang mengalami penyakit jangka panjang meningkat dari 2 juta menjadi 2,5 juta dalam tiga tahun sejak 2019. Lebih dari 70% dari kenaikan tersebut, yaitu 363.000, terjadi setelah kedatangan Covid pada awal 2020.

Baca Juga: Semakin Penasaran, Teaser Episode Perdana Drama Song Joong Ki Resmi Dirilis

Gavin Burt, ahli osteopati dan direktur klinik Backs & Beyond di London, mengatakan dia tidak terkejut dengan angka ONS berkaitan dengan keluhan backpain akibat WFH. Dia melihat sendiri peningkatan signifikan pada pasien yang datang dengan masalah punggung dan leher, terutama orang berusia dua puluhan.

“Di kantor Anda memiliki pengaturan kursi ergonomis yang dirancang dengan sangat baik, yang membantu mengurangi cedera regangan berulang dan nyeri punggung. Tetapi kita tidak pernah memikirkan tentang ergonomi di rumah,” serunya.

Burt, yang anggota General Osteopathic Council, menambahkan, “Orang-orang bekerja dengan satu kaki di atas tempat tidur, satu kaki di bawah tempat tidur, dalam posisi yang agak bungkuk di atas laptop mereka, atau di kursi makan atau sofa yang tidak nyaman. Pada dasarnya itu adalah cedera yang berlebihan dalam posisi tubuh yang buruk, lebih lama daripada jika mereka bekerja di kantor.”

Baca Juga: Tak Seperti Ibu Negara Korsel Lain, Istri Presiden Korsel Kim Keon-hee Punya Bisnis Sendiri

ONS mengatakan, peningkatan relatif paling tajam dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada mereka yang berusia 25 hingga 34 tahun. Penyakit jangka panjang dalam kategori usia tersebut naik sebesar 42%, dibandingkan dengan lonjakan 16% untuk orang berusia antara 50 dan 64 tahun.

Burt juga mengaku memperhatikan perkembangan yang baik pada beberapa kliennya, yang kembali bekerja paruh waktu ke kantor. Mereka melakukan perjalanan pulang-pergi, terutama yang bepergian dengan kendaraan umum.

“Saya sudah melihat kondisi orang membaik ketika menerapkan sistem kerja hybrid, kembali melakukan perjalanan pulang-pergi. Begitu mereka bangun pagi dan bepergian, mereka jadi berpikir untuk olahraga,” lanjutnya.

Keluhan backpain akibat WFH ini sekaligus menandakan, ergonomi yang buruk dapat berdampak pada ekonomi. Sebab, mereka yang mengidap backpain jadi tidak aktif di kantor. Kamu juga mengalaminya?

Baca Juga: Survei: 10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali Calon Pejuang Kantoran

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Guardian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X