3,1% Orang Berusia 25-34 Sering Nyeri Lutut. Rawat Kesehatan Sendi untuk Cegah Osteoarthritis!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 30 Desember 2022 | 08:30 WIB
Ilustrasi: Nyeri lutut akibat terserang osteoarthritis bisa terjadi di usia muda. (Freepik/Kate Mangostar)
Ilustrasi: Nyeri lutut akibat terserang osteoarthritis bisa terjadi di usia muda. (Freepik/Kate Mangostar)

PejuangKantoran.com - Akhir-akhir ini kita mungkin sering mendengar orangtua, atasan, atau rekan kerja, mengeluh sendi lututnya nyeri sehingga sulit digerakkan. Dalam bahasa medis, nyeri lutut yang cukup mengganggu ini disebut osteoarthritis.

Nyeri lutut tidak cuma menghambat aktivitas, tetapi juga bisa menurunkan produktivitas, sekaligus menurunkan kualitas hidup penderitanya. Bayangkan kalau penderita osteoarthritis jadi sulit naik-turun tangga untuk mengambil sesuatu, pasti dia kesal dan sedih.

Pertambahan usia memang menyebabkan kondisi tubuh makin menurun dan sering memicu munculnya penyakit degeneratif. Penyakit ini menyebabkan gangguan terhadap fungsi organ atau anggota tubuh, seperti halnya nyeri lutut akibat terserang osteoarthritis.

Baca Juga: Jangan Lupa Perhatikan Kesehatan Mental! Ini Ciri-ciri Orang Punya Masalah Mental

Osteoarthritis menimbulkan peradangan kronis pada sendi yang disebabkan kerusakan tulang rawan. Kondisi ini terjadi ketika tulang rawan yang merupakan bantalan pelindung tulang kehilangan elastisitasnya.

Akibatnya, terjadi gesekan antartulang yang membuatnya lebih rentan mengalami kerusakan dan menyebabkan radang sendi. Kondisi ini paling sering terjadi di sendi-sendi jari tangan, lutut, pinggul, dan tulang punggung, meskipun osteoarthritis bisa menyerang semua sendi.

Osteoarthritis juga bisa menyerang anak muda, lho. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit sendi di Indonesia mencapai 3,1% pada usia 25-34 tahun dan 6,3% pada usia 35-44 tahun. Angka ini meningkat menjadi 15% pada usia 45-54 tahun, serta 15,5% pada usia 55-64 tahun.

Namun, keluhan nyeri ini paling sering dialami wanita pasca menopause. Ada sekitar 8,5% wanita berusia lebih dari 50 tahun yang mengalami penyakit sendi.

Baca Juga: Manfaat Air Beras untuk Kulit Wajah Sehingga Sering Dipakai dalam Produk Skincare Korea

Gejala umum osteoarthritis antara lain sendi berbunyi saat digerakkan, nyeri saat menggunakan sendi, pembengkakan pada area sendi, sendi terasa kaku pada pagi hari, nyeri sendi memburuk pada malam hari, serta muncul benjolan yang merupakan potongan tulang ekstra.

“Nyeri sendi dapat diatasi dengan cara farmakologis, dimana penderita dengan tingkat gejala yang ringan hingga medium dapat mengonsumsi suplemen nutrisi khusus untuk sendi seperti glukosamin dan kondroitin,” papar dr. Henrita Ernestia M.Biomed AAM.

Suplemen nutrisi ini punya efek sinergis atau saling menguatkan, sehingga dapat menstimulasi pembentukan tulang rawan, menghambat kerusakan sendi, dan mengurangi rasa nyeri akibat peradangannya.

“Namun penderita dengan tingkat gejala yang sudah berat memerlukan tindakan operasi untuk proses penyembuhannya,” tambahnya.

Adapun cara mengatasi nyeri sendi secara non farmakologis adalah dengan memperbaiki gaya hidup sejak sekarang. Dr. Henrita membagikan tips merawat kesehatan sendi agar terhindar dari risiko osteoarthritis berikut ini:

Baca Juga: Sambil Doakan Indra Bekti, Mari Kita Kenali Pendarahan Otak, Penyebab dan Gejalanya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X