Selimut atau bahan penyekat yang berhasil ditarik dari ruangan atau dinding melindungi mereka dari hipotermia, yang dapat menyebabkan kematian dalam hitungan jam.
Korban selamat yang berhasil keluar dari reruntuhan hidup-hidup juga belum aman. Jika penyelamat tidak bertindak untuk mencegah konsekuensi sindrom himpitan (crush syndrome), korban bisa keracunan akibat penumpukan protein beracun yang dilepaskan oleh jaringan otot anggota tubuh yang kehilangan aliran darah.
Baca Juga: Penjarah di Wilayah Gempa Turki Ditangkap dan Dipukuli Setelah Merampok Properti yang Dilanda Gempa
Begitu darah dari anggota tubuh tersebut mulai bersirkulasi ulang ke bagian tubuh lainnya, ia bisa membawa racun ke ginjal dan organ lain, menyebabkan kerusakan mematikan meskipun sudah diselamatkan.
Sebelum mengangkat beban dari korban, penyelamat perlu menerapkan torniket agar darah beracun tidak mengalir ke seluruh tubuh.
Ketika tindakan itu berhasil, tim penyelamat juga mulai mencoba untuk memulai jalur IV, seringkali langsung ke tulang (disebut IV intraosseous).
Tindakan ini untuk merehidrasi korban dan mengencerkan darah sampai penumpukan protein beracun dapat dibersihkan melalui dialisis.
Artikel Terkait
Ingin Fokus ke Keluarga, CEO Youtube Mundur dari Jabatannya
Aturan Jam Kerja Jakarta, Dinas Perhubungan: Terserah Masing-masing Perusahaan
Usaha Jastip Akan Dikenakan Pajak dan Bea Masuk. Cek Batasan Barang yang Bebas Bea Masuk!
Keasyikan Jadi Youtuber, Baim Wong Ajukan Syarat Ketika Diajak Main Film di Berbalas Kejam
UN Women Buka Lowongan Kerja National Consultant for UN Women Setara Berdaya Bootcamp
Resmi Dibuka, Kartu Prakerja 2023 Skema Normal yang Lebih Fokus pada Peningkatan Keahlian