Generasi Sekarang Lebih Terbuka soal Gaji, Perusahaan pun Harus Utamakan Transparansi Gaji?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 1 Desember 2023 | 07:29 WIB
Ilustrasi: Transparansi gaji lebih diharapkan dari perusahaan, karena saat ini Gen Z lebih terbuka soal gaji. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Transparansi gaji lebih diharapkan dari perusahaan, karena saat ini Gen Z lebih terbuka soal gaji. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Bagi generasi-generasi sebelumnya, membicarakan soal gaji dan kesenjangan upah di tempat kerja dianggap tabu. Namun, tidak dengan generasi saat ini.

Sekarang sudah ada lebih banyak perhatian terhadap kesenjangan gaji karena generasi yang lebih muda, seperti Generasi Milenial dan Gen Z tidak sungkan  terbuka soal gaji yang mereka dapatkan.

Pertanyaannya: Apakah dengan adanya transparansi gaji ini akan membantu perusahaan mencapai kesetaraan penghasilan atau justru menimbulkan lebih banyak konflik di antara para pekerja?

Salah satu faktor memilih perusahaan

Menurut survei dari Bankrate.com, banyak pekerja yang lebih muda lebih terbuka soal gaji mereka dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua.

Sekitar 42% karyawan Gen Z yang berusia 18 – 25 tahun dan 40% karyawan Milenial yang berusia 26 – 41 tahun telah terbuka soal gaji mereka dengan kontak profesional atau rekan kerja.

Mungkin inilah alasannya topik mengenai transparansi gaji telah menjadi poin penting bagi calon karyawan dalam memilih perusahaan yang akan dilamar.

Sebuah laporan dari Beqom di 2022, mengungkapkan bahwa tiga dari lima karyawan akan beralih ke perusahaan dengan transparansi gaji yang lebih baik.

Namun, lebih dari sepertiga pekerja yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan bahwa perusahaan mereka tidak mengungkapkan data kesenjangan gaji antara gender secara eksternal maupun internal.

Apa yang dimaksud dengan transparansi gaji?

Sesuai namanya, transparansi gaji mengacu pada keterbukaan perusahaan mengenai kompensasi calon karyawan dan karyawan yang sudah bekerja.

Beberapa orang percaya bahwa mempublikasikan data semacam itu untuk komunitas karyawan dapat mengurangi bias dan merupakan langkah menuju kesetaraan gaji.

Namun, tidak sedikit juga yang berpikir bahwa hal ini dapat memicu kecemburuan di antara para pekerja. Ini karena ada beberapa kasus ketika mereka yang berada di posisi yang sama dan diberi kompensasi yang berbeda, merasakan ketidakadilan dari perusahaan.

Mempublikasikan data gaji karyawan bukan berarti pemberi kerja harus mem-posting semua angka secara terbuka.

Ada berbagai tingkat transparansi gaji, mulai dari memberitahu karyawan apa yang menjadi hak mereka hingga memiliki struktur gaji yang terbuka. Terserah bagaimana mendefinisikan seberapa transparan yang diinginkan perusahaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: People Matters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X