7 Istilah di Dunia Kerja yang Cenderung Jadi Norma Baru, Karyawan Harus Lebih Peka

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 30 November 2023 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Bare minimum mondays merupakan salah satu istilah baru di dunia kerja, di mana karyawan merasa hanya perlu melakukan tugas-tugas ringan di hari Senin. (Freepik/Garets Visual)
Ilustrasi: Bare minimum mondays merupakan salah satu istilah baru di dunia kerja, di mana karyawan merasa hanya perlu melakukan tugas-tugas ringan di hari Senin. (Freepik/Garets Visual)

PejuangKantoran.com - Dunia kerja terus bergerak dan berubah, dipicu oleh kemajuan teknologi, peralihan ke pekerjaan remote, serta peristiwa-peristiwa terkini. Hal ini menciptakan istilah-istilah baru di dunia kerja.

Lazy girl job, quiet quitting, bare minimum mondays, adalah beberapa istilah baru di dunia kerja yang muncul akibat perubahan sosial yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Istilah baru di dunia kerja ini penting diketahui karena pola ini menjadi norma baru di tempat kerja. Terkadang hal itu menjadi tren, walaupun tidak semuanya memberi dampak positif.

Baca Juga: Agar Terlihat Seperti Anak SMA di Ancika 1995, Zee JKT48 Sengaja Menurunkan Berat Badan

Dengan adanya istilah-istilah baru di dunia kerja tersebut, karyawan tentunya dituntut untuk cepat beradaptasi. Buat kamu yang belum menyadari adanya perubahan tersebut, berikut tujuh istilah baru di dunia kerja yang menjadi pro-kontra bagi para pekerja.

1. “Lazy girl job”

Sebutan untuk pekerjaan jarak jauh yang memberikan upah layak tanpa butuh banyak effort untuk melakukannya. Bahkan, pekerja tetap memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Banyak yang menyebut lazy girl job sebagai pekerjaan orang malas. Namun, istilah ini menggambarkan kebutuhan dasar pekerja untuk dipenuhi.

Hal ini mencakup beban kerja yang realistis, jam kerja yang masuk akal, manajer yang baik, pekerjaan yang bermakna, dan sebagainya.

2. Quiet quitting

Istilah saat karyawan berusaha mempertahankan pekerjaan dengan upaya seminimal mungkin, bahkan enggan berusaha lebih keras untuk perusahaan.

Baca Juga: 5 Kedai Kopi yang Nyaman buat Tempat Nugas dan Ketemu Klien di Area Cikarang

Bentuk quiet quitting bisa saja tidak ikut memberi masukan saat rapat, tidak menawarkan diri untuk melakukan tugas-tugas tambahan, dan menolak bekerja lembur.

3. Quiet hiring

Mengacu pada praktik perusahaan yang mengisi kekosongan posisi atau pekerjaan dengan melimpahkan tugas-tugasnya pada karyawan yang sudah ada, atau pada freelancer, dan bukannya merekrut karyawan full time yang baru. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Indeed, Personio

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X