PejuangKantoran.com - Turnamen besar seperti Piala Dunia selalu membawa euforia, tapi juga masalah operasional buat HR di kantor kita. Beberapa jam tayangnya yang melewati tengah malam bikin pola kerja karyawan berubah.
Misalnya, laga Belgia vs Iran pada Senin (22/6/2026) pukul 02.00, atau Uruguay vs Tanjung Verde pada pukul 05.00. Memang tidak semua pertandingan merupakan laga yang ditunggu-tunggu, terutama jika ada tim yang baru melakukan debutnya di Piala Dunia 2026. Namun, tayangan di jam-jam tersebut berisiko mengganggu waktu tidur, yang berakibat kita kesiangan atau mengantuk di kantor.
Malahan sekarang ini banyak karyawan menyusun jadwal mereka mengikuti jadwal pertandingan, bukan jam kerja normal, begitu pengamatan Lisa Patmore, Employment Partner di Dorsey & Whitney.
Baca Juga: 1 dari 5 Lulusan Baru Melamar Lebih dari 100 Lowongan Kerja, Bukti Kecemasan yang Meningkat!
Menurut Lisa, konsekuensi dari keriaan usai pertandingan bisa berimbas pada performa karyawan esok harinya. Urusannya jadi serba salah dan bikin pusing HR, terutama kalau masalah absen atau sering telat ini sudah mulai mengganggu produktivitas, merusak pelayanan, atau bikin repot rekan kerja lain yang harus ketiban tugas tambahan.
Lisa mengingatkan agar perusahaan tidak bereaksi spontan ketika ada karyawan yang melaporkan sakit, meski postingan media sosialnya menunjukkan mereka kelelahan sehabis begadang.
“Pemberi kerja harus memperlakukan setiap laporan sakit sebagai asli kecuali ada bukti yang menunjukkan sebaliknya. Kalau tidak, itu bisa menimbulkan klaim pemecatan tidak adil atau diskriminasi,” jelas Lisa.
Ditambah lagi, di zaman media sosial sekarang ini, batasannya makin nggak jelas. Memang sih, kalau ada karyawan yang izin sakit setelah semalaman sibuk bikin postingan medsos, itu mencurigakan dan bisa bikin bos bertanya-tanya. Tapi, hal itu tidak bisa langsung dijadikan alasan buat menjatuhkan sanksi atau hukuman.
Baca Juga: Tersentuh dengan Filmnya, Rizky Febian Gubah Ulang Lagu Ciptaannya untuk OST 'Jangan Buang Ibu'
Setiap postingan harus dilihat dulu konteksnya. Waktu unggah (timestamp) di media sosial itu tidak selalu akurat secara hukum. Selain itu, tindakan perusahaan yang diam-diam memata-matai akun pribadi karyawan malah bisa memicu masalah pelanggaran privasi. Ujung-ujungnya, justru bisa merugikan si bos sendiri.
Jadi, tim HR harus menyiapkan komunikasi kebijakan yang tegas namun manusiawi, melatih manajer untuk menilai konteks, dan mengingatkan staf tentang batasan pribadi serta profesional.
Buat kita-kita, sekadar mengingatkan nih sebagai sesama pejuang kantoran, nggak semua selebrasi perlu diposting di media sosial. Kalau memang mau, atur saja postingannya cuma buat Close Friend biar nggak dikepoin si bos.
Yang penting, kantor dan karyawan bisa mendorong budaya di mana Piala Dunia 2026 yang merupakan momen empat tahunan seharusnya bisa dinikmati bareng tanpa merugikan orang lain. Kalau jadinya mengantuk di kantor, tanggung sendiri!
Artikel Terkait
Orang yang Baca Review Berulangkali Sebelum Membeli Barang Bukan Berarti Kelamaan Mikir
Survei: Anak Muda Sekarang Nggak Akan Mandiri Secara Finansial sampai Usia 26 Tahun
Setelah 144 Tahun, Sagrada Familia Akhirnya Mencapai Tonggak Bersejarah
5 Fakta Unik Kelolosan Meksiko ke 32 Besar Piala Dunia 2026: Tuah Guadalajara hingga "Kutukan" Babak Gugur
Tetap Semangat Gen Z! Kini Kita Punya Masa Tunggu 19,8 Bulan Setelah Lulus Sebelum Mendapat Pekerjaan Pertama Kita
Qatar Kena Batunya, Drama Guling-Guling yang Sirna! Qatar Dihancurkan Fisik Kanada
Nggak Ada Waktu Jangan Halangi Niat Olahraga Jangan Malas Berolahraga, Kenalan sama Micro-Workouts, Tren Olahraga Kilat 5 Menit