Penulis CV Profesional Peringatkan Pencari Kerja untuk Tidak Pakai AI untuk Menulis Lamaran Kerja

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 26 Juni 2026 | 22:32 WIB
Ilustrasi: Hati-hati, penulis CV bisa mengenali isi surat lamaran kerja yang dibuat dengan AI. (Freepik)
Ilustrasi: Hati-hati, penulis CV bisa mengenali isi surat lamaran kerja yang dibuat dengan AI. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Sekarang ini, banyak banget karyawan yang memanfaatkan AI untuk membantu urusan kerja sehari-hari, termasuk untuk bikin CV. Tapi tahu nggak, rekruter dan penulis CV profesional justru mulai memberikan peringatan keras soal tren ini. 

Berdasarkan riset terbaru dari Kickresume, lebih dari separuh penulis CV (56%) mengaku sering, bahkan selalu menerima berkas lamaran dan mengenali isinya yang pakai teks buatan AI.

Sekitar 67% dari mereka melihat konten-konten AI tersebut meningkat pesat di lapangan. Ini jadi tren paling umum yang lagi terjadi di industri rekrutmen saat ini.

Baca Juga: Michelin Buka Lowongan Kerja English Training Officer untuk Penempatan di Cikarang, Bekasi

Masalah utamanya adalah esensi dari CV itu sendiri. Dokumen ini kan tujuannya untuk menunjukkan keahlian dan karakter asli seseorang di atas kertas. Kalau teksnya terlalu kaku, tanpa emosi, dan kelewat sempurna, hal itu malah nggak menunjukkan diri kita yang sebenarnya. 

Isi CV yang generik dan template banget sekarang menggeser posisi salah ketik (typo) sebagai masalah nomor satu (63% banding 8%). Jadi, pembaca CV lebih terganggu baca tulisan yang membosankan daripada salah ketik.

AI memang bikin CV bebas dari salah ejaan, tapi di sisi lain, teknologi ini juga sering bikin pelamar melebih-lebihkan keahlian mereka (alias ngibul). 

"AI itu ada memang untuk dijadikan alat bantu, tapi yang sebenarnya bikin sebuah CV jadi menonjol adalah sentuhan personal yang kita masukkan ke dalamnya," ujar CEO Kickresume, Peter Duris, tentang fenomena ini.

Detail yang lebih spesifik tentang keahlian, pengalaman, dan pencapaian kita adalah hal-hal yang cuma bisa diberikan oleh kita sendiri.  

Meski melarang penggunaan AI secara plek-ketiplek, laporan ini tidak sepenuhnya melarang pelamar untuk minta bantuan AI untuk menyusun CV. AI generatif dinilai tetap punya sisi positif, terutama kalau dipakai sebagai memancing kreativitas.

Baca Juga: Bali Nggak Lagi Jadi Pulau Terindah di Kawasan Asia Pasifik, Pulau Apa yang Jadi Penggantinya?

Sebanyak 86% responden merasa AI membuat alur kerja mereka jadi lebih lancar. Selain itu, 69% di antaranya melihat AI sebagai alat bantu atau peluang. Jadi, bukan sebuah ancaman.

Yang seru, CV yang panjang mulai ngetren lagi. Hampir 1 dari 3 penulis CV bilang, sekarang makin banyak orang yang mengirim lamaran dengan panjang lebih dari dua halaman.

Makanya, sekitar 24% penulis CV melihat adanya tren positif di mana pelamar mulai fokus pada aspek personal branding dan metode bercerita (storytelling) yang lebih hidup. Sedangkan 18% lainnya mulai berani memakai desain CV yang kreatif dengan format infografis. 

Jadi, boleh-boleh saja pakai AI untuk mencari inspirasi. Tapi urusan isi dan nyawa dari pengalaman kerjamu, sebaiknya tetap kamu sendiri yang nulis, ya! 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: TechRadar, kickresume.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X