PejuangKantoran.com - Di masa ketika PHK massal terjadi di mana-mana, lowongan kerja menjadi rebutan ribuan orang, kita pasti akan cenderung nekat saat melamar pekerjaan. Padahal, kita mungkin belum sepenuhnya memenuhi persyaratan yang diminta.
Masalahnya, tidak semua lowongan kerja bisa dikejar hanya dengan modal nekat. Ada kalanya, memaksakan diri melamar pekerjaan yang benar-benar di luar jangkauan justru cuma membuang waktu dan energi.
Emang sih, kita tidak boleh langsung minder saat melihat daftar persyaratan lowongan kerja yang kita minati. Sering kali, daftar itu cuma wish list atau ekspektasi ideal dari pihak perusahaan.
Baca Juga: Bisa Nggak Sih, Ngelamar Lowongan Pekerjaan Jika Tidak Semua Persyaratannya Kita Penuhi?
Rekruter tidak melulu mencari kandidat yang cocok secara kaku, melainkan lebih ke kombinasi skill yang dibawa.
Misalnya, perusahaan butuh event planner untuk yayasan rumah sakit, sementara pengalamanmu adalah mengelola penggalangan dana di dunia seni non-profit. Secara industri berbeda, tapi karena inti keahliannya sama, kamu tetap punya peluang besar untuk lolos.
Kuncinya ada pada bagaimana kamu membuktikannya lewat contoh spesifik di CV dan cover letter. Kalau mereka butuh keahlian teknis tertentu seperti CRM atau Javascript dan kamu memang punya, langsung cantumkan dengan jelas.
Namun, di balik semua kelonggaran itu, ada batasan tegas yang harus dipahami. Kalau kamu tidak memenuhi persyaratan minimumnya, sebaiknya urungkan niat untuk melamar.
Kapan sebaiknya tidak memaksakan diri melamar pekerjaan?
Berikut adalah beberapa situasi dan kondisi yang menjadi tanda bahwa kamu sebaiknya tidak memaksakan diri untuk melamar pekerjaan tersebut:
• Pekerjaan tersebut butuh sertifikasi resmi. Jika posisi tersebut mewajibkan sertifikasi profesi atau lisensi hukum tertentu yang tidak kamu miliki, lamaranmu otomatis langsung gugur.
• Butuh keahlian teknis yang lama untuk dikuasai. Ada peran yang menuntut pemahaman teknis mendalam dan tidak bisa dipelajari secara instan dalam hitungan minggu lewat on-the-job training.
• Tidak punya kompetensi inti sehari-hari. Kalau tugas yang harus dikerjakan setiap hari nanti adalah hal yang sama sekali tidak kamu pahami atau kuasai dasarnya.
• Skala pekerjaannya terlalu jauh di atas pengalamanmu. Ada tingkatan kualifikasi yang punya toleransi, ada yang tidak. Kalau perusahaan minta pengalaman 10 tahun sementara kamu baru jalan 2 tahun, posisi ini jelas bukan untukmu.
Artikel Terkait
Teknologi dalam Genggaman untuk Sehat: Bagaimana Wearable Device Mempersonalisasi Olahraga Anda
Jakarta Resmi Jadi Kota Terpadat di Dunia, Kalahkan Dhaka dan Tokyo
98% Perusahaan Kini Lebih Utamakan Skill Saat Rekrut Karyawan, Bukan dari IPK
Istana Buckingham Buka Lowongan Kerja Videografer Bergaji Rp1,2 Miliar per Tahun, Ini Syarat dan Fasilitasnya
Swedia Jadi Negara Pertama yang Bisa Resepkan Liburan dari Dokter
Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Buka Lowongan Kerja 2026, Dibutuhkan Sekretaris Bagian Politik
Era Serba Digital, Namun Ternyata Bolpoin Masih Sangat Diperlukan untuk Kerja Terutama di Tugas Penting Berikut!