Kata Penelitian, Liburan Setiap Dua Bulan Lebih Efektif Cegah Burnout

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Rabu, 15 Juli 2026 | 18:15 WIB
ilustrasi cuti (Freepik/PV Productions)
ilustrasi cuti (Freepik/PV Productions)

PejuangKantoran.com - Mengambil cuti panjang sekali dalam setahun mungkin bukan lagi strategi terbaik untuk memulihkan diri dari tekanan pekerjaan. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan, liburan singkat tetapi dilakukan lebih sering justru dinilai lebih efektif menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam editorial ilmiah berjudul Maximizing Recovery: The Superiority of Frequent Vacations for Well-Being and Performance yang diterbitkan di jurnal Cureus pada Juli 2025. Penulisnya, Selvaraj Giridharan dan Bhuvana Pandiyan, merangkum sejumlah penelitian mengenai hubungan antara liburan, pemulihan stres, dan produktivitas kerja. 

Berdasarkan berbagai studi yang dianalisis, penulis merekomendasikan pekerja mengambil liburan singkat sekitar setiap dua bulan. Tujuannya bukan sekadar beristirahat, tetapi mencegah akumulasi stres yang dapat berkembang menjadi kelelahan kronis atau burnout. 

Baca Juga: Viral! Ikat Rambut Erling Haaland Ternyata Berasal dari Korea, Ini 5 Faktanya

Manfaat Liburan Cepat Memudar

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa manfaat liburan memang nyata. Seseorang umumnya mengalami penurunan tingkat stres, suasana hati yang lebih baik, serta peningkatan energi setelah berlibur. Namun, efek tersebut sering kali mulai berkurang hanya dalam beberapa minggu setelah kembali bekerja, terutama jika beban kerja tetap tinggi. 

Karena itu, penulis berpendapat bahwa menyebarkan waktu liburan sepanjang tahun dapat memberikan kesempatan pemulihan yang lebih konsisten dibanding menghabiskan seluruh jatah cuti dalam satu perjalanan panjang. 

Bukan Soal Durasi, tetapi Kualitas Istirahat

Menurut penelitian, keberhasilan liburan tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu cuti, tetapi juga kemampuan seseorang untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan. Menghindari email kantor, pesan pekerjaan, maupun panggilan terkait pekerjaan selama liburan dinilai menjadi faktor penting agar proses pemulihan berlangsung optimal. Aktivitas seperti olahraga, menikmati alam, atau mengeksplorasi budaya lokal juga disebut dapat memperkuat manfaat liburan terhadap kesehatan mental.

Baca Juga: Kapan Sebaiknya Nggak Maksa Melamar Pekerjaan yang Nggak Sesuai Kualifikasi Kamu?

Perusahaan Juga Punya Peran

Penulis juga mendorong perusahaan agar mendukung budaya kerja yang lebih sehat, misalnya dengan memberikan fleksibilitas dalam mengambil cuti serta mengurangi komunikasi pekerjaan di luar jam kerja. Langkah tersebut dinilai dapat membantu pekerja pulih lebih baik sekaligus meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang.

Meski demikian, penulis menegaskan bahwa rekomendasi liburan setiap dua bulan merupakan usulan berbasis sintesis penelitian, bukan aturan baku yang berlaku untuk semua orang. Kebutuhan istirahat setiap pekerja tetap dapat berbeda tergantung jenis pekerjaan, tingkat stres, serta kebijakan perusahaan masing-masing. 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X