Kelompok peserta yang paling muda memberikan tingkat kepercayaan paling rendah terhadap kemampuan insinyur tersebut.
"Mereka mungkin menganggap mereka sebagai rekan yang baik atau suportif, tetapi mereka tidak menganggap mereka berguna," ujar Dr. Chiu mengenai persepsi tersebut.
Menuju tim yang lebih inklusif
Terlepas dari anggapan karyawan muda, studi ini menjadi pengingat penting bagi para manajer. Kita tidak boleh berasumsi bahwa karyawan senior tidak butuh dukungan atau pelatihan tambahan hanya karena mereka sudah punya banyak pengalaman. Semua generasi sebenarnya butuh bantuan biar tetap relevan.
Baca Juga: 5 Tanda bahwa Kamu Karyawan yang Tidak Tergantikan di Tempat Kerja, Termasuk oleh AI
Pesan kunci dari penelitian ini adalah pentingnya menciptakan tim yang inklusif secara usia. Usia lanjut bukan jaminan seseorang otomatis menguasai semua proses modern, begitu juga usia muda bukan berarti tidak butuh bimbingan.
"Adalah sebuah kesalahan kalau kita mengira mereka tidak butuh dukungan hanya karena mereka lebih tua atau lebih berpengalaman," pesan Dr. Chiu.
Memang nggak gampang sih, membangun rasa saling percaya antargenerasi. Tapi, memahami bahwa setiap orang punya kebutuhan untuk belajar (tanpa memandang umur) itu penting banget agar suasana kerja tetap produktif dan tidak saling menjatuhkan.