Pejuangkantoran.com - Dunia kerja saat ini berada dalam era perubahan yang cepat, turbulen, atau sering disebut era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Kondisi ini disebabkan oleh perubahan teknologi yang cepat yang mendorong tranformasi digital yang serba otomasi sehingga menjadikan ekonomi bisa berubah dengan cepat.
Dunia kerja yang sangat cepat berubah ini melahirkan lingkungan kerja yang sangat dinamis. Lingkungan yang seperti ini menuntut learning agility yang tinggi agar mudah beradaptasi.
Learning agility adalah kemampuan seseorang untuk belajar dengan cepat dari pengalaman, lalu menerapkannya dalam situasi baru yang berbeda.
Secara sederhana, ini bukan cuma soal pintar atau cepat memahami, tapi tentang bagaimana seseorang:
- Mau belajar dari pengalaman (termasuk kegagalan).
- Bisa dengan cepat beradaptasi saat menghadapi perubahan.
- Mampu mencoba pendekatan baru ketika cara lama tidak lagi efektif.
Misal, semula kamu seorang programmer yang andal dalam coding, namun dengan “lahirnya” artificial intelligence yang sudah bisa membuat coding, mendorong kamu harus bisa memanfaatkan perubahan ini tanpa harus tersingkir oleh AI.
Baca Juga: Agility Quotient, ketika Karyawan yang Agile Lebih Cepat Beradaptasi dengan Perubahan
Kamu dtuntut untuk cepat memahami cara kerja yang baru seperti ini, aktif belajar dan bertanya jika memang tidak tahu, serta menghubungkan pengalaman lama kamu dengan situasi baru.
Ketika learning agility rendah, orang cenderung akan menunggu arahan, sulit berubah, dan hanya mengandalkan cara kerja lama.
Jadi, saat ini kemampuan kamu dalam learning agility menjadi sangat dihargai karena perubahan teknologi yang sagat cepat sehingga sebuah skill pun bisa cepat using. Perusahaan butuh orang yang bisa belajar ulang dengan cepat.
Cara Mengukur Learning Agility
Lalu bagaimana cara mengetahui seberapa tinggi learning agility kita? Secara umum, learning agility biasanya dilihat dari 5 dimensi utama,
- Mental Agility
Ini adalah kemampuan berpikir fleksibel dan melihat masalah dari berbagai sudut.
Contoh:
- Cepat memahami situasi kompleks;
- Bisa mencari alternatif Solusi;
- Tidak terpaku satu cara.
Tanda-tanda bahwa mental agility seseorang rendah, ia akan kaku dan sulit menerima pendekatan baru