Pejuangkantoran.com - Belakangan ini, perubahan di tempat kerja terjadi semakin cepat. Mulai dari digitalisasi, penerapan AI, hingga pergeseran budaya organisasi, semuanya seakan datang bertubi-tubi.
Namun, kenyataannya karyawan bukan robot yang bisa langsung menyesuaikan diri setiap kali ada aturan baru.
Menurut laporan terbaru The Grossman Group pada September 2025, sebagian besar karyawan hanya sanggup menghadapi satu sampai dua perubahan besar per tahun.
Bandingkan dengan lebih dari separuh pimpinan bisnis yang menargetkan tiga atau lebih perubahan besar dalam dua tahun ke depan.
Tak heran banyak pekerja akhirnya merasa kewalahan. Alih-alih produktif, mereka justru rentan burnout.
Komunikasi yang buruk jadi sumber masalah
Dalam survei yang dilakukan The Harris Poll terhadap 905 karyawan penuh waktu, terungkap bahwa 1 dari 4 pekerja tidak percaya pimpinannya mampu berkomunikasi dengan baik. Padahal, komunikasi jelas adalah kunci ketika ada perubahan.
Data menunjukkan, organisasi yang gagal membangun komunikasi dan kepemimpinan yang baik 5,5 kali lebih berisiko gagal menjalankan transformasi. Sebaliknya, perusahaan bisa tiga kali lebih sukses jika karyawan benar-benar dilibatkan.
Bagi pekerja, dilibatkan bukan berarti hanya diberi tahu, tetapi juga diajak bicara, didengar masukannya, serta diberikan waktu untuk memahami dan menyesuaikan diri.
Baca Juga: Tren Baru: Perusahaan Gabungkan HR dan IT di Bawah Satu Kepemimpinan, Gimana Ceritanya?
AI dan budaya baru, tantangan berat bagi pekerja
Mayoritas pemimpin menyebut AI sebagai faktor besar dalam perubahan yang akan datang. Namun, di sisi pekerja, AI justru sering memunculkan kecemasan baru:
“Apakah pekerjaan saya akan tergantikan?” atau “Apakah saya cukup punya skill untuk bertahan?”
Artikel Terkait
Pentingnya Peran HR dalam Melakukan Mediasi Karyawan saat Terjadi Konflik di Tempat Kerja
Ini Kunci! Mengembangkan Keterampilan Baru Penting Bagi Karyawan Maupun Perusahaan!
Tren Kerja Tanpa Batas Bikin Kita Bisa Kerja di Perusahaan Global tanpa Harus Pindah Negara
Budaya Kerja yang Menuntut Karyawan untuk Terus Membuktikan Diri Bisa Memicu Kelelahan
Ketika “Perusahaan Impian” Berubah Haluan, Mengapa Karyawan Merasa Dikhianati?
Meski Maksudnya Baik, Program Kesehatan Kantor Jarang Dirasakan Manfaatnya oleh Karyawan. Kok Bisa?